NADI GURU BLOG

Kriteria Pemimpin dalam Islam

Posted by Dede Taufik on Saturday, 23 January 2016

Kriteria Pemimpin dalam Islam

Nadi Guru - Setiap orang di kalangan umat Islam wajib mempunyai pemimpin. Karena pemimpinlah yang akan menyelamatkan hidupnya dunia dan Akhirat. Oleh karena itu mencari dan menentukan pemimpin untuk diikuti dan ditaati, adalah kewajiban setiap umat Islam. Untuk mengenali pemimpin yang baik dan tidak, Islam memberi garis panduan umum pada kita.

Dalam Islam, kepemimpinan boleh dibagi menjadi tiga kategori yaitu: pemimpin yang baik, pemimpin yang lemah, dan pemimpin yang cacat (rusak).

1. Pemimpin yang Baik
Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang memiliki empat kekuatan yaitu kekuatan jiwa, kekuatan akal (memiliki buah fikiran), kekuatan perasaan dan kekuatan fisik. Dengan syarat keempat bagian itu ditunjang oleh iman dan takwa.

Kuat Jiwa
Seorang pemimpin memerlukan kekuatan jiwa karena pemimpin perlu memiliki sifat-sifat tabah, redha, berani, tahan uji, yakin dengan diri, tegas, optimis, sungguh-sungguh, lapang dada, kasih sayang dan serius dalam tugasnya.
Sifat-sifat itu semuanya sangat penting untuk memikul beban kepemimpinan yang pasti ditempuh oleh seorang pemimpin. Tanpa sifat-sifat itu, pemimpin tidak akan mampu menyelesaikan masalah dan persoalan yang timbul, baik di kalangan manusia atau di dalam urusan pembangunan materiil. Misalnya apabila ada anak buah, pengikut atau rakyat membuat masalah, kekacauan atau menghalangi perjalanan perjuangan, pemimpin yang tidak tegas akan ragu-ragu atau tidak sampai hati untuk bertindak dan menghukum orang tersebut.
Rasa kasihan, tidak sampai hati dan lain-lain, membuat dia rela 'benalu' itu terus merusak pohon. Hasilnya, masalah yang timbul terbiar untuk mengeruhkan suasana negara, masyarakat atau jemaahnya. Kalau negara, masyarakat atau jemaah ditimpa ujian baik dari dalam atau luar, pemimpin yang tidak kuat jiwa akan mudah melatah, panik dan ketakutan atau bertindak membabi buta. Semangat untuk meneruskan perjuangan mungkin patah. Tindakan yang terburu-buru atau tergopoh-gopoh mungkin akan dibuat, yang memungkinkan salah langkah. Pengikut yang melihat hal itu akan turut cemas dan sekaligus lemah semangat juang mereka.
Pemimpin yang tidak kuat jiwa bila tercabar atau terancam, biasanya tidak akan tahan menerimanya, lalu akan terus menjawab dan bertindak. Dia boleh menantang orang lain. Tapi dia jangan ditantang. Pasti dia tidak akan tahan. Biasanya membawa akibat buruk kepada diri dan pengikutnya sendiri. Kadang-kadang musuh sengaja memancing supaya dia  berbicara yang bukan-bukan agar musuh melihat kelemahannya bila dia bertindak dengan mencela, mempermainkan dan menjatuhkan lawannya.
Pemimpin yang tidak kuat jiwa biasanya merelakan rakyat bersikap lamban, malas dan main-main terhadap aktivitas pembangunan. Yang penting bagi mereka rakyat mendukung. Kesungguhan untuk menggiatkan anak buah agar lebih aktif dan berdisiplin tidak ada,  akhirnya negara atau jemaah tidak membangun, rakyat mundur dan tidak berakhlak serta banyak masalah yang tidak selesai.

Kuat Mental
Kekuatan mental sangat penting bagi seorang pemimpin. Pemimpin laksana lampu penyuluh perjalanan hidup rakyat atau pengikut dan negara atau jemaah. Tanpanya, rakyat atau pengikut sebuah negara atau jemaah seolah-olah berada dalam kegelapan. Bila pemimpin lemah fikirannya, dia akan kekurangan ide yang baik dan tepat untuk bertindak, merancang dan menyelesaikan masalah. Dia tidak memiliki buah fikiran sendiri, hanya meminjam buah fikiran orang lain. Dia mudah buntu dalam kepemimpinannya. Bila tertantang atau terancam, tidak tahu bagaimana untuk melepaskan diri atau membalas. Kadang-kadang karena tidak cerdik, perkara yang tidak baik dikatakannya baik atau sebaliknya. Keadaan berbahaya dibiarkannya. Tipuan dan umpan musuh termakan olehnya.
Maka akan terjadi masalah masyarakat dan negara atau jemaah oleh pemimpin yang tidak cerdik, tidak kreatif, tidak ada ide dan tidak berstrategi ini. Sedangkan bagi pemimpin yang mempunyai akal yang tajam, dia dapat membaca sebab-sebab timbulnya satu masalah dengan tepat dan pandai mencari penyelesaian yang konkret. Dia melihat kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi terhadap sesuatu tindakan yang orang lain tidak nampak. Hal-hal yang tersirat dapat dibaca dan difahaminya. Tipuan musuh dapat dipantau dan dia mempunyai daya tindak balas yang lebih bijaksana dan tajam. Rancangannya tepat, strateginya tepat. Buah fikirannya mampu menjayakan program pembangunan insan dan materiil dalam masyarakat, negara atau jemaahnya. Karena dia tidak bersandar atau mengutip buah fikiran orang lain tetapi mempunyai pandangan sendiri yang sesuai, tepat dengan persoalan dan keadaan semasa di zamannya.

Kuat Perasaan
Kekuatan perasaan juga penting sekali bagi seorang pemimpin. Yakni kekuatan untuk menimbang-nimbang kepentingan dan masalah orang lain. Kekuatan untuk bertenggang rasa, berlemah-lembut dan berkasih sayang dengan manusia. Kekuatan untuk menangkap hal-hal di sebalik hati manusia dan tahu bagaimana menghibur mereka. Pemimpin yang tidak memiliki semua ini adalah pemimpin yang akan kasar, bengis dan kejam dengan manusia. Pengikut taat kepadanya dalam keadaan terpaksa dan takut. Lama- kelamaan pengikut akan jemu dan akan meninggalkannya. Dia kurang halus dalam menyelesaikan masalah. Dia tidak sensitif dengan ragam manusia. Membujuk, menjaga hati, mengambil hati, menghibur dan lain-lain yang perlu untuk menawan hati manusia tidak ada dalam kamus tindakannya. Keadaan kepemimpinannya akan tegang, serius dan formal sekali. Tenggang rasa, berlapang dada dan memaafkan pengikut yang bersalah atau lemah jarang terjadi. Dia banyak memaksa dan memecahkan ukhuwah. Akhirnya kepemimpinannya tidak membawa hasil yang sebaik-baiknya.
Sedangkan pemimpin yang memiliki kekuatan perasaan akan halus dalam membuat pertimbangan dan tindakannya dengan manusia. Dia ditaati dengan kasih sayang. Dia dipuja oleh pengikut karena pandai melayani dan menghibur hati pengikut dengan tidak mengorbankan prinsip dan identitas. Dia tegas tapi tidak keras. Dia bersungguh-sungguh tapi tidak memaksa. Dia lembut, pengasih dan pemaaf tetapi tidak lamban, lemah dan lalai. Dia sabar tapi tidak membiarkan anak buahnya. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin di hati rakyat bukan di mata rakyat. Dia diterima karena akhlaknya bukan saja karena bijaksana dan beraninya. Walaupun dia sudah pensiun atau mati tetap diterima kepemimpinannya dan akan dikenang serta disanjung.

Kuat Fisik
Kekuatan fisik bagi seorang pemimpin termasuk suatu hal yang penting. Kalau pemimpin tidak aktif, selalu tidak sehat, tidak lincah dan tidak hadir program, kepemimpinannya menjadi jumud dan kaku. Sebab itu para rasul yang ditugaskan untuk memimpin umat, semuanya diberi fisik yang kuat. Hingga mereka sanggup untuk mengembara dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain melintasi padang pasir, gunung-gunung, gua dan hutan belantara. Cuma dengan berjalan kaki atau mengendarai kendaraan saja. Di samping mereka adalah makhluk Allah yang diberi akal tajam, jiwa yang kebal dan perasaan yang halus dan tinggi.  Orang biasa atau pemimpin biasa tidak ada yang dikaruniakan semua itu kecuali kalau diusahakan. Itupun tidak dapat menandingi Rasul.
Pemimpin yang sempurna dengan kekuatan-kekuatan tersebut tadi,  ditunjang oleh takwa dan iman, itulah pemimpin yang akan berjaya dalam kepemimpinannya. Berjaya dalam arti kata dapat memimpin dan mendidik umat untuk memperoleh hasil yang tepat dan baik, yaitu mentaati Allah dan Rasul. Sekalipun tidak banyak orang yang dipimpinnya, tetapi pimpinan itu benar dan tepat. Sedangkan kalau banyak pengikut tetapi hasilnya tidak tepat dan benar, maka pengikut yang banyak itu seperti buih di lautan saja. Dan pemimpin itu dianggap gagal. Karena mendapat banyak pengikut yang tidak berkualitas.
Para pemimpin di dunia hari ini umumnya tidak dapat menciptakan kejayaan yang memuaskan dalam kepemimpinan mereka. Sekalipun dia seorang yang memiliki  empat kekuatan tersebut. Namun karena kekuatan itu tidak ditunjang oleh ilmu wahyu, iman dan takwa, maka kekuatan tadi tidak mencapai kesuburan yang maksimum. Laksana pohon dari benih yang baik tetapi karena kurang mendapat baja yang baik, kesuburan dan hasil yang diberi tidak dapat dikatakan berjaya.
Ilmunya cuma di sekitar hal-hal yang terjangkau oleh otak saja. Rahasia tersirat di balik hati manusia yang dipimpin, kemungkinan masa depan tindakannya serta kesan terhadap alam ghaib tidak dianggap penting. Ilmunya tumpul dan dangkal. Kekuatan jiwanya tidak sampai kepada kemerdekaan yang hakiki karena ia terpaut pada kepentingan dunia. Tidak pada Allah yang Maha Tinggi. Demikian juga kehalusan hatinya tidak sampai kepada akhlak yang seagung-agungnya karena nafsunya tidak berjaya diperangi habis-habisan.
Dengan itu kejayaan pemimpin yang memiliki keempat kekuatan tetapi tidak bertakwa, mungkin sebanyak 10% saja dibandingkan dengan kejayaan pemimpin  bertakwa yang memiliki keempat kekuatan asas itu. Keistimewaan lain yang diperoleh pemimpin yang bertakwa ialah:
  1. Ia diberi ilmu yang tidak ada dalam kitab, dalam pengalaman atau pada guru. Ia diajar secara langsung oleh ALLAH, Maha Guru bagi segala guru, yang ilmuNya bagaikan lautan. Ilmu itu diajarkan melalui perantara hati, bukan akal lagi. Jadi hati orang ini bercahaya, dapat menyuluh kehidupan yang nyata dan gaib dengan sangat terang. Ia melihat perkara-perkara yang tidak dapat dilihat oleh mata dan otak. Hal itu berdasarkan firman Allah: “Bertakwalah kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan mengajar kamu. (Al Baqarah: 282)”
  2. Dilepaskan dari masalah dan mendapat rezeki dari sumber yang tidak diduga. Pemimpin sangat memerlukan bantuan di waktu 1001 masalah rakyat mendatanginya. Tanpa bantuan Allah, umumnya pemimpin tidak mampu untuk menyelesaikan masalah, bahkan makin dicoba makin banyak masalah. Seorang tuan pemilik mobil kalau tidak dibantu oleh tukang mobil dalam memperbaiki kerusakan mobil, karena ingin memperbaiki sendiri, niscaya mobil itu akan lebih rusak lagi.

Di samping itu dengan takwa, ada rezeki dari sumber yang tidak terduga. Sebab itu orang bertakwa dapat menyelesaikan masalah ekonomi dan lain-lain, karena untuk mereka ada jalan-jalan pemasukan rezeki yang luar biasa melalui usaha-usahanya. Hal itu dapat disaksikan dengan nyata dalam realitas kehidupan orang-orang bertakwa serta dapat diterima logika akal walaupun bukan logika menurut ukuran otak biasa. Otak biasa hanya mampu menangkap logika-logika lahiriah dalam kehidupan biasa saja. Pada otak, tidak masuk akal kalau dikatakan syaitan itu akan tersiksa dalam api Neraka. Sebab ia diciptakan dari api. Api dengan api tidak akan terasa sakit. Tetapi mengapa manusia yang dibuat dari tanah terasa sakit kalau dilempar dengan tanah. Tanah dengan tanah akankah terasa sakit?
Hadirnya pemimpin yang baik ke dunia benar-benar membawa kebahagiaan pada seluruh manusia. Bagaikan adanya seorang ayah dalam sebuah keluarga. Islam memerintahkan umatnya wajib taat pada pemimpin seperti itu. Dia tidak boleh ditukar. Kepemimpinannya seumur hidup. Selagi tidak ada uzur syariat seperti sakit, dia tidak boleh mengundurkan dirinya dari memimpin.

2. Pemimpin yang Lemah
Kalau pemimpin yang baik dan berjaya itu adalah pemimpin  bertakwa yang mempunyai empat kekuatan, maka pemimpin yang lemah itu adalah pemimpin yang tidak memiliki salah satu atau lebih dari empat kekuatan tersebut. Apakah jiwanya tidak cukup kuat, akalnya tidak cukup tajam, perasaannya tidak cukup halus atau fisiknya tidak cukup sehat. Boleh jadi juga lebih dari satu anggota itu yang lemah.
Tetapi kelemahan pemimpin akan begitu menonjol kalau pemimpin itu lemah fikiran, sekalipun dia orang baik dan bertakwa. Dia tidak menindas, tidak menzalimi, tidak menyalahgunakan kuasa dan tidak mencari kepentingan diri dalam tugas sucinya itu. Tetapi kelemahan itu disebabkan dari lemah akal.
Pemimpin yang lemah akal tidak memiliki buah fikiran dan ide. Tidak juga kreatif dan berstrategi. Akibatnya, bila negara kurang maju dan tidak dapat memajukannya, dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menciptakan kemajuan. Juga tidak tahu bagaimana untuk mempertahankan kemajuan yang sudah dicapai. Masalah tidak dapat dilihat sebagai masalah dan kalau pun tahu masalah, tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tidak mengerti bagaimana caranya mendidik rakyat atau pengikutnya yang tidak terdidik, yang menimbulkan bermacam-macam masalah,  agar terdidik dan tidak menimbulkan masalah. Pembangunan insan di kalangan rakyat tidak terjadi dengan sempurna. Akhirnya terjadi macam-macam kejahatan dan masalah. Hasilnya, di bawah kepemimpinan yang lemah fikiran itu, negara tidak maju. Rakyat terlantar.  Musuh dapat mempermainkan dan menjatuhkannya kapan saja.
Namun tanpa kekuatan jiwa, fikiran yang kuat tidak membuahkan apa-apa. Hanya tinggal teori-teori dan ide serta berbagai-bagai perancangan tetapi tidak terlaksana. Sebab untuk melaksanakan buah fikiran dan perancangan, seorang pemimpin mesti dibantu oleh jiwa yang kuat, bercita-cita, berani, yakin dengan diri, tahan uji, sanggup berkorban apa saja dan lain-lain. Mungkin idenya sampai bertimbun-timbun dalam berbagai-bagai risalah, buku-buku dan kitab-kitab namun ia terus tersembunyi dalam kamarnya. Tidak berani turun gelanggang ke tengah masyarakat karena takut pada resiko, cemas atas kemungkinan-kemungkinan tidak baik, tidak berani memecah tradisi, tidak sanggup melawan arus dan macam-macam hal lagi.
Akhirnya teori tinggal teori selama-lamanya. Tidak ada praktekknya. Benih yang baik tidak ditanam, maka ia tidak akan berbuah. Pemimpin seperti itu biasanya hanya mampu menjadi pemimpin kertas kerja, pemimpin seminar, pemimpin simposium, pemimpin forum dan lain-lain. Mukanya selalu ditonjolkan di layar Tv sebagai tokoh. Tetapi tidak dapat membawa pengikut turun gelanggang. Mereka berangan-angan dengan teori ilmiahnya itu. Bukan saja kemajuan tidak terjadi bahkan pemimpin itu kian tertinggal dan dilupakan orang.
Sebaliknya kalau jiwa saja yang kuat, otak lemah, jadilah pemimpin bagaikan lembu menanduk tembok. Hebat keberaniannya tetapi apa faedahnya meruntuhkan tembok? Salah-salah, tanduk yang patah. Itulah keberanian membabi buta namanya. Keberanian, cita-cita dan keyakinan yang tidak dirancang, tidak bijaksana, tidak berdisiplin dan sembrono. Pemimpin seperti itu lebih banyak membuat masalah daripada membuat kebajikan. Negara, jemaah, rakyat atau pengikut jadi susah dibuatnya.
Demikianlah seterusnya kalau pemimpin hanya memiliki kekuatan perasaan dan kekuatan fikiran saja, akan lemah juga kepemimpinannya. Dan kalau ada kekuatan jiwa dan perasaan saja, akan lemah juga bentuk kepemimpinannya. Sekurang-kurangnya kalau tidak dapat memiliki semuanya, pemimpin itu mesti memiliki kekuatan fikiran dan jiwa. Selain itu, pemimpin itu dianggap lemah. Pemimpin yang lemah itu hakikatnya bukan pemimpin. Kalau mereka bertaraf ulama, mereka adalah ulama berwatak abid, bukan berwatak pejuang dan pemimpin.
Sebaiknya pemimpin yang lemah ini kalau sangat susah untuk diperbaiki kepemimpinannya, sepatutnyalah dia mengundurkan diri dari tugasnya secara suka rela. Dia akan disanjung karena keikhlasannya mencari pengganti yang lebih kuat dan mampu. Atau kalau pemimpin tersebut tidak sadar kelemahannya, rakyat mesti peka dan menasihati pemimpin dengan penuh hormat takzim agar mengganti pemimpin dengan yang lebih kuat, layak dan mampu. Kepentingan negara,  jemaah dan rakyat atau pengikut lebih utama dari kepentingan pribadi. Semua pihak mesti merasa bertanggung jawab terhadap nasib negara, bangsa, agama dan masyarakat. Berdosa hukumnya membiarkan negara lemah dan mundur tanpa berusaha mengatasinya.

3. Pemimpin Yang Cacat (Rusak)
Kepemimpinan yang cacat (rusak) menurut pandangan Islam berawal dari pribadi pemerintah yang jahat. Mereka tidak beriman dan bertakwa atau lemah imannya karena sangat lalai mengusahakannya. Akibatnya, akhlak mereka buruk sekali. Mereka sombong, takabur dan angkuh dengan rakyat atau pada pengikutnya, bakhil dan tamak dengan harta, kasar dan pemarah, hasad dengki dan pendendam serta perangai buruk dan jahat lainnya.
Hidup mereka bukan berjuang untuk pembangunan negara, rakyat atau jemaahnya, tetapi hidup berfoya-foya, bermewahan dan mubazir uang negara. Rakyat yang tidak sefaham ditindas dan dizalimi. Mereka telah menyalahgunakan kuasa dengan sewenang-wenang. Lebih cerdik mereka itu, lebih hebat kejahatan yang dilakukan. Lebih kuat jiwanya, lebih biadab mereka dengan ALLAH dan zalim terhadap rakyat dan harta negara.
Demikianlah untuk  pemerintahan yang tidak beriman dan bertakwa serta jahil dengan ajaran Al Quran dan Sunnah. Negara atau jemaah dalam pimpinan mereka akan hidup segan, mati tak mau. Rakyat hidup tanpa pimpinan, terbiar dan tidak menentu tujuan hidupnya. Jauh sekali dari menjadi manusia-manusia soleh yang dikehendaki oleh Islam. Mungkin sedikit banyak ada kemajuan dan pembangunan lahiriah tetapi rakyat atau pengikutnya hidup dengan lebih memburu dunia daripada Akhirat.
Biasanya, bila pemerintah sudah kejam, zalim dan berfoya-foya, lama-kelamaan terjadilah huru-hara dalam negara. Sesama pemerintah saling bersengketa karena memperebutkan harta kekayaan. Rakyat yang cerdik sudah berharap agar pemerintah yang ada diganti saja. Para pengampu(?) dan penjilat akan menghasut pemerintah bertindak terhadap penentang-penentangnya. Dengan harapan mereka mendapat upah dan keistimewaan hidup di sisi tuannya. Maka dipuja dan dipujilah pemerintah yang sudah rusak itu. Akibatnya kegelisahan dan ketegangan hidup terasa di mana-mana, di dalam negara. Waktu itu biasanya terjadi macam-macam bala bencana  di dalam negara untuk memproses  setiap hati agar merasakan perlunya suatu perubahan dalam pemerintahan. Karena pemerintahan yang ada sudah hilang wibawa dan keberkatannya.
Dalam pandangan Islam, pemerintah seperti itu patut dinasihati oleh ulama-ulama agar mereka insaf, bertaubat dan segera mengubah sikap. Sekiranya pemerintah atau pemimpin tidak mengubah sikap mereka wajib memilih orang lain yang lebih baik, yang lebih bertakwa untuk mengendalikan urusan memerintah negara. Sehingga negara dan rakyat, jemaah dan pengikut selamat serta mereka pun selamat. Tetapi sekiranya mereka keras kepala dan para ulama pun memuji-muji pemerintah, biasanya mereka juga akan jatuh dalam keadaan terhina oleh bencana-bencana yang Allah timpakan hingga mereka hilang lenyap dari muka bumi Allah ini.
Lihatlah firman Allah dalam surah Al An'am:
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka. Padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan padamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka. Kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An'am : 6)

Atau mereka itu akan jatuh terhina dengan cara-cara yang lain. Dan Allah berkuasa melakukannya.

Sumber rujukan:
  • Tim Dosen SPAI UPI, 2008. “Panduan Seminar Pendidikan Islam dan Lembar Kerja Mahasiswa” Value Press. Bandung.
  • Firdaus, Endis. 2006. Imam Perempuan : Dekonstruksi Perspektif Gender
  • Keniscayaan Kontekstualisasi Politik Ajaran Islam Di Indonesia. Jakarta. Emas Yayasan Pena.
  • Mulia, Siti Musdah dan Anik Farida. 2005, Perempuan Dan Politik, Jakarta Gramedia.

Previous
« Prev Post

Related Posts

23:56:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!