Membaca Sebagai Kebutuhan

Guru menulis
Guru Menulis, Kabar Priangan (5/2/2016)
Penulis : Dede Taufik, S.Pd. 
Membaca adalah salah satu kompetensi berbahasa Indonesia yang diajarkan kepada siswa. Kompetensi ini diharapkan bisa mengantarkan siswa untuk memiliki wawasan luas. Baik wawasan yang berhubungan dengan pengetahuan di sekolah, sosial di masyarakat, maupun wawasan yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan masa kini.
Untuk menggapai semua harapan itu, tentunya kompetensi membaca tidak hanya sebatas pada pencapaian kompetensinya saja. Namun, harus menjadi suatu budaya yaitu ‘Budaya Membaca’. Dalam hal ini, jika membaca telah menjadi budaya maka bukan lagi membaca itu sebagai suatu keharusan tetapi sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi.
Contoh sederhana untuk mempermudah pemahaman di atas, misalnya saja membaca itu diilustrasikan dengan makan dan minum. Setiap hari, tubuh kita sudah pasti membutuhkan makanan dan minuman agar dapat memiliki energi untuk menjalankan aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak, maka tubuh kita akan menjadi lemas yang berujung pada sakit.
Begitu pula dengan membaca, jika telah menjadi suatu kebutuhan maka orang itu akan berusaha keras untuk tetap memenuhinya. Karena dia sadar bahwa dengan membaca, dirinya akan terhindar dari ‘penyakit’. Penyakit yang ditimbulkan karena tidak membaca, tentunya berbeda dengan penyakit yang ditimbukan karena tidak makan dan minum. Namun, dampaknya sangat besar terhadap kehidupan, khususnya masa depan.
Apalagi, zaman terus mengalami perubahan. Saat ini adalah zamannya persaingan. Dimana untuk menggapai sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan, dewasa ini tidaklah mudah karena harus melewati persaingan. Tentunya, bersaing dengan cara yang sehat bukan dengan cara memanfaatkan jalan ‘instan’.
Salah satu cara yang bisa dilakukan agar bisa memenangkan persaingan adalah menjadikan kegiatan membaca itu sebagai suatu kebutuhan. Kegiatan membaca harus menjadi budaya oleh sebagian besar masyarakat, khususnya siswa sebagai generasi masa depan. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah berkenaan dengan sumber bacaan (buku) itu sendiri.
Memang benar, hampir di setiap sekolah tersedia berbagai buku yang diperuntukkan sebagai penunjang pembelajaran yang diperoleh dari bantuan pemerintah. Tetapi, apakah buku-buku itu mampu meningkatkan minat baca siswa? Mudah-mudahan saja jawaban yang terlontar adalah ‘iya’ dan sesuai dengan kenyataannya. Namun jika tidak, inilah yang harus menjadi perhatian dan pemikiran bersama.
Sungguh sangat menggembirakan bagi kita semua selaku guru, pasalnya di Tasikmalaya ada sebuah wacana baru yaitu ‘Program Tasik Membaca Untuk Indonesia membaca’. Katanya, program itu akan menjadi sebuah program yang diunggulkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya di tahun 2016 sekarang.
Mudah-mudahan, program itu bukan hanya sebagai wacana belaka namun diaplikasikan secara efektif dan efisien. Bukan hanya yang berhubungan dengan penyediaan perpustakaan saja, tapi yang terpenting adalah keberadaan bukunya yang sesuai dengan karakter dan minat dari siswa itu sendiri. Sehingga, menjadikan kegiatan membaca itu sebagai suatu kebutuhan. Semoga…  

Artikel Terkait

Membaca Sebagai Kebutuhan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...