Menyoal Rendahnya Kejujuran Sekolah

Guru Menulis Kabar Priangan
Guru Menulis Kabar Priangan (15/02/2016)
Penulis : Dede Taufik, S.Pd.
Mengkhawatirkan, itulah sebuah ungkapan terkait kondisi sekolah yang ada di Indonesia saat ini, terutama dalam tingkat kejujuran sekolah. Pasalnya, tingkat kejujuran sekolah sangat rendah dan dunia pendidikan telah dikatakan tidak bersih dari perilaku kejahatan manipulasi. Padahal, dunia pendidikan itu adalah ujung tombak dalam mewujudkan generasi yang berkualitas di masa depan.
Menurut pengamat pendidikan Arief Rahman, jika jumlah sekolah yag jujur dan berprestasi di Indonesia hanya sedikit tidak melebihi dari seribu sekolah. Sebanyak 80 persen sekolah tidak jujur, itu artinya hanya 20 persen saja sekolah yang jujurnya. Tentunya, hal itu akan menjadi tamparan keras bagi para pelaku dunia pendidikan, seperti guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Apalagi, Kemendikbud telah mewajibkan untuk menumbuhkan budi pekerti di sekolah melalui Peraturan Menteri (Permen) Nomor 23 Tahun 2015.
Selain itu, tamparan keras juga disampaikan oleh Ketua Komunitas Perempuan Bogor Anti Korupsi Hania Rahma, yang menyatakan jika lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi sering ditunjuk sebagai tempat yang marak dalam kasus tindakan korupsi. Tingginya kasus itu terkait dengan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP).
Sangat ironis, kasus korupsi yang menjarah anggaran pendidikan dalam sepanjang tahun 2010 hingga 2015 bisa mencapai 1,17 triliun rupiah. Seharusnya, anggaran di bidang pendidikan bisa terbebas dari perilaku korupsi karena orang-orang yang ada di dalamnya merupakan orang-orang yang berpendidikan.
Sebenarnya, untuk meningkatkan tingkat kejujuran di sekolah tidaklah sulit namun juga tidak mudah. Pasalnya, hal itu berhubungan dengan kesadaran diri dan tuntutan atas kebijakan yang ada. Misalnya, agar bisa masuk ke sebuah sekolah favorit (unggulan) harus memiliki nilai yang sangat besar. Katakanlah, nilai rata-rata minimal siswa yang ingin masuk ke sekolah tersebut adalah 9 (Sembilan). Tentunya, pencapaian nilai minimal itu harus dipersiapkan sejak awal.
Nampaknya, kebijakan dalam penerimaan siswa baru juga harus mendapat perhatian. Setidaknya, bukan hanya mengandalkan nilai Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah (US). Melainkan ditambah dengan ‘tes tulis’, yang nantinya hasil tersebut diakumulasikan juga dengan nilai UN dan US.
Sementara untuk mencegah terjadinya tindakan korupsi di lingkungan dunia pendidikan, diperlukan suatu keberanian. Maksudnya, berani untuk menolak berbagai tindakan KKN meskipun sebuah perintah dari atasan atau pejabat. Selain itu, bagi orang yang berani ini harus mendapatkan jaminan perlindungan dari berbagai ancaman yang mungkin terjadi atas keberaniannya tersebut.  
Dengan begitu, besar harapan agar terwujudnya sekolah atau dunia pendidikan yang jujur. Pasalnya, proses pendidikan yang dilakukan secara jujur akan mampu menciptakan generasi yang berkualitas yaitu sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Semoga 

Artikel Terkait

Menyoal Rendahnya Kejujuran Sekolah
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...