Semoga Anakku Bisa Jadi Dokter

Saya beserta istriku merupakan lulusan dari pendidikan keguruan. Namun, hingga saat ini saya sendiri belum merasa menjadi guru. Salah satunya mungkin dikarenakan belum diangkat menjadi guru pegawai negeri sipil (PNS). Selain itu, saat ini pekerjaannya juga hanya sebatas mengajar di salah satu bimbingan belajar.
dokter
Ilustrasi seorang dokter
Sementara istri, saya sarankan untuk menjadi ibu rumah tangga (IRT) saja. Padahal, sudah beberapa tahun dirinya mengabdikan diri menjadi guru honorer di salah satu SD Negeri di Kota Tasikmalaya. Tapi, pilihan tuk menjadikan dirinya sebagai IRT tentunya dengan pikiran yang matang. Karena saya menyadari jika anak lebih berharga dan pantas untuk diasuh dan dibimbing oleh ibunya sendiri. Sekaligus ingin membuktikan, bahwa kualitas pola asuh yang dilakukan oleh seorang sarjana itu seperti apa. Dalam hal ini, pengasuhan yang fokus khususnya ketika masih dini.
Saya juga pernah bertanya kepada istri saya :
“Maukah nanti ketika kita sudah tua, anak kita tak mengurus kita?”

Istri saya pun menjawab :
“Ya gak mau, karena pastinya setiap orangtua pun menginginkan perhatian dari anaknya”

Ya kalau begitu, maka uruslah anak kita oleh ibunya sendiri agar perhatian dan kasih dari ibunya bisa Ia dapatkan ketika si anak masih dalam kondisi yang sangat butuh perhatian dan kasih sayang penuh dari orangtuanya. Masalah rizki, biarlah kita pasrahkan kepada yang maha pemberi rizki. Tetaplah yakin!
Meskipun saya dan istri saya adalah seorang guru. Saya berkeinginan tuk bisa menjadikan anakku kelak sebagai seorang dokter. Bukan karena tak ingin memiliki penerus dalam menjadi guru, namun di saat ini menjadi guru (PNS) sangatlah sulit. Sementara, jika menjadi dokter. Tak diangkat PNS pun bisa membuka klinik sendiri.
Dokter, yang berhubungan dengan kesehatan sebenarnya tak kalah pentingnya dengan pendidikan. Jadi, masih tetap mengabdi kepada negara dengan cara menolong orang-orang yang membutuhkan.
Agar harapan itu bisa terwujudkan, doa yang saat ini bisa dipanjatkan. Ketika anak saya nakal, saya coba marahin dia dengan kalimat "Kamu tuh nakal, semoga kamu kelak jadi dokter".
Hal itu dilakukan, karena banyak yang bilang jika ucapan kita adalah doa.
Maka dari itu, saya mencoba memanggilnya dengan sebutan "Nyi Dokter". Ya, memang jika hanya mengandalkan logika, tak mungkin bisa membiayainya untuk pendidikan dokter. Katanya, biaya menjadi dokter itu biayanya mahal.
Namun, sebagai manusia kita hanya diwajibkan untuk berikhtiar dan berdoa. Masalah hasil nanti, biarlah alloh menentukan yang terbaik. Semoga saja anakku kelak, benar-benar bisa menjadi dokter. Aminnn...

Artikel Terkait

Semoga Anakku Bisa Jadi Dokter
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...