Sejarah Gunung Galunggung : Dari Meletus Hingga Menjadi Obyek Wisata

Nadi Guru - Gunung Galunggung merupakan sebuah gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut yang terletak di daerah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.  gunung ini berada pada titik koordinat yaitu 7.25°LS-7°15'0"LS; 108.058°BT-108°3'30"BT.
Sejarah Gunung Galunggung : Dari Meletus Hingga Menjadi Obyek Wisata

Sejarah meletusnya Gunung Berapi Galunggung
Meletusnya Gunung Galunggung terjadi di bulan April 1982 hingga 8 Januari 1983. Hal itu menyebabkan salah satu pesawat super jumbo Boeing 747 yang merupakan milik British Airways nomor penerbangan BA-9 dengan tujuan London-Auckland, Australia, harus mengalihkan pendaratannya ke Bandara Halim Perdanakusumah.
Meletusnya Gunung Galunggung
Pengalihan pendaratan itu terpaksa dilakukan karena keempat buah mesinnya mati total akibat menghisap abu vulkanik akibat bencana letusan Galunggung. Kejadian fatal mesin pesawat mati terjadi ketika Boeing jumbojet tersebut terbang melintasi wilayah selatan Gunung Galunggung.
Bencana letusan besar pada skala 4 VEI (Volcanic Explosivity Index) pada awal Mei tahun 1982 dan menjadi malapetaka bagi wilayah di sekitar Galunggung tersebut. Meliputi wilayah Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu, dan Kecamatan Leuwisari, serta beberapa Kecamatan lain di Kabupaten Tasikmalaya.
Selama 9 bulan periode bencana letusan Galunggung, 18 orang tewas, kerugian mencapai hingga milyaran rupiah, dan puluhan desa ditinggal begitu saja tanpa penghuni.
Kala itu, bencana letusan tahun 1982 yang berlangsung tak berhenti hingga 9 bulan lamanya menghancurkan kubah lava yang sudah membuntal sejak letusan di awal abad 19. Akibat letusannya, kemudian muncul air yang membentuk danau besar di atas kawah Galunggung, kawah air panas inilah yang sekarang menjadi objek wisata utama Gunung Galunggung.
Kepala Ahli Geologi Indonesia, A Djumarma Wirakusumah mengatakan bahwa volume air yang besar di atas kawah Gunung Galunggung memberikan potensi bencana yang lebih mematikan. Menurutnya, apabila Gunung Galunggung meletus lagi, maka 7.8 ton meter kubik air yang berada di kawah akan mendidih karena aliran lahar di bawahnya. Ketika suatu waktu nanti bencana letusan Galunggung terjadi lagi, maka air mendidih di kawah tersebut akan membawa jangkauan material lahar lebih mematikan.
Dengan begitu, Djumarma menambahkan bahwa sampai saat ini, proses pengurangan volume air di kawah Galunggung terus dilakukan dengan mengalirkan air melalui terowongan buatan yang membuang aliran airnya ke sungai Cikunir. Usaha tersebut dilakukan untuk tetap menjaga risiko ancaman bencana letusan Galunggung sekecil mungkin terhadap perkampungan di sekitar Galunggung.
Seperti yang diketahui bahwa Gunung Galunggung serupa dengan gunung api lain di wilayah Pulau Jawa, terletak di antara banyak perkampungan atau pemukiman padat penduduk. Kepadatan penduduk ini yang menaikkan level risiko bencana gunung meletus hingga ke titik maksimum.

Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektare di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Obyek yang lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas.

Letusan Galunggung 1982, disertai petir
Pada awal Juli tahun 1918, letusannya menghasilkan hujan abu setebal 2-5 mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan. Letusan terakhir yang terjadi pada tanggal 5 Mei 1982, disertai dengan suara dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar.
Letusan yang terjadi pada periode ini juga telah menyebabkan berubahnya peta wilayah pada radius sekitar 20 km dari kawah Galunggung, yaitu mencakup Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu dan Kecamatan Leuwisari. Perubahan peta wilayah tersebut lebih banyak disebabkan oleh terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan akibat melimpahnya aliran lava dingin berupa material batuan-kerikil-pasir.
Sementara pada periode pasca letusan (yaitu sekitar tahun 1984-1990) adalah masa rehabilitasi kawasan bencana, yaitu dengan menata kembali jaringan jalan yang terputus, pengerukan lumpur/pasir pada beberapa aliran sungai dan saluran irigasi (khususnya Cikunten I), kemudian dibangunnya check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai “benteng” pengaman melimpahnya banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya.
Pada masa itu juga dilakukan eksploitasi pemanfaatan pasir Galunggung yang dianggap berkualitas untuk bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Pada tahun-tahun kemudian hingga saat ini usaha pengerukan pasir Galunggung tersebut semakin berkembang, bahkan pada awal perkembangannya (sekitar 1984-1985) dibangun jaringan jalan Kereta Api dari dekat Station KA Indihiang (Kp. Cibungkul-Parakanhonje) ke check dam Sinagar sebagai jalur khusus untuk mengangkut pasir dari Galunggung ke Jakarta.

Menjadi Obyek Wisata
Sebagian besar dari pengunjung obyek wisata gunung Galunggung adalah wisatawan lokal. Sementara untuk wisatawan dari mancanegara masih di bawah hitungan 100 orang rata-ratanya per tahun. Jumlah rata-rata wisatawan dalam maupun juga luar negeri yang berkunjung ke Gunung Galunggung berjumlah sekitar 213.382 orang per tahun.
Melihat potensinya, sebenarnya obyek wisata Gunung Galunggung bisa menarik wisatawan mancanegara. Namun sayangnya, masih belum dikemas untuk semua itu.  Posisi geografisnya yang cukup strategis, serta memiliki kekhasan dari kondisi alamnya obyek wisata Gunung Galunggung itu  cukup potensial untuk dijual kepada wisatawan mancanegara.
Mudah-mudahan saja ke depannya, Gunung Galunggung bisa menjadi obyek wisata yang sangat diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Sehingga, dapat meningkatkan pendapatan pemerintah daerah dari obyek wisata tersebut.

Sumber :
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Galunggung
2. http://blog.act.id/sejarah-bencana-letusan-gunung-galunggung-tasikmalaya/

Artikel Terkait

Sejarah Gunung Galunggung : Dari Meletus Hingga Menjadi Obyek Wisata
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...