NADI GURU BLOG

Banggakah Pada Bahasa Indonesia?

Posted by Dede Taufik on Sunday, 1 May 2016

Pada bulan Oktober 2008 ini, usia bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia menginjak 80 tahun. Pada usianya yang ke-80 tahun ini, rasanya masih banyak yang harus kita renungkan mengenai keberadaan bahasa Indonesia. Beberapa pertanyaan muncul dalam benak  penulis. Mengapa sampaI detik ini orang yang mengaku bangsa Indonesia belum berbahasa Indonesia dengan baik dan benar? Mengapa sebagian besar kita, bangsa Indonesia, tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar? Apa atau siapa  sebenarnya yang harus menjadi acuan kita untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin saja muncul pada mereka, para pengguna bahasa Indonesia, para pemerhati bahasa Indonesia. Secara jujur harus kita akui, memang bahasa Indonesia masih kurang dikuasai oleh sebagaian besar masyarakat kita sehingga tidak jarang kita mendengar atau membaca tulisan orang yang menggunakan bahasa Indonesia kurang tepat, sering terdapat kesalahan. Kesalahan-kesalahan tersebut meliputi penggunaan kata dalam kalimat yang tidak tepat makna, bentukan kata yang tidak tepat, susunan kalimat yang kurang baik dan benar, dan masih banyak lagi yang dapat kita temui. Walaupun tidak dapat kita pungkiri bahwa bahasa Indonesia yang kita gunakan setiap hari, digunakan sebagai bahasa pengantar pembelajaran dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
Ketidakmampuan kita berbahasa Indonesia yang baik dan benar bersumber dari diri kita sendiri. Kita kurang perhatian terhadap bahasa Indonesia. Kebanyakan di antara kita menganggap kecil urusan bahasa Indonesia, banyak di antara kita  merasa sudah pandai berbahasa Indonesia, menganggap bahwa bahasa Indonesia digunakan setiap hari dalam masyarakat kita. Oleh karena itu, merasa tak perlu lagi memberikan perhatian terhadap bahasa Indonesia. Tak perlu bertanya kepada orang yang lebih paham, tak perlu memperhatikan bahasa yang baik dan benar yang digunakan orang lain, tak perlu memperdalam pengetahuan dan meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia.
Misalnya, bila kita membaca surat kabar dan menemukan sepatah kata yang ditulis dengan dengan dua tulisan praktik dan praktek, lalu kita membiarkan begitu saja. Tidak tergugah sedikit pun untuk mengetahui mana di antara kedua bentuk tersebut yang benar, yang baku. Kita tidak ingin menanyakan kepada orang yang lebih paham, tidak berhasrat membuka kamus. Hal seperti ini di antaranya yang penulis maksud dengan kurang perhatian.
Kita tidak mempunyai rasa bangga memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia yang diamanatkan oleh para pendahulu kita 80 tahun yang silam. Kita tidak merasa  bangga bila menguasainya dengan baik, kita tidak kagum bila ada orang Indonesia mahir berbahasa Indonesia dengan baik dan benar karena semua itu dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja. Sebaliknya, bila ada orang yang dapat menggunakan bahasa asing, kita akan merasa kagum, dianggap hal yang istimewa. Penguasaan bahasa Indonesia belum menjadi prasyarat kedudukan yang terkemuka di dalam masyarakat kita sehingga bahasa para pejabat, pemuka, dan tokoh masyarakat kita dew@sa ini tidak semuanya bisa dijadikan acuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kita lebih menghargai bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Pandai dan mahir berbahasa asing tentu bukan sesuatu yang salah. Akan tetapi, bagi bangsa Indonesia, kemahiran dalam berbahasa asing tanpa mahir berbahasa Indonesia yang baik dan benar masih merupakan suatu ketunaan, suatu cacat.
Yang penulis uraikan di atas dapat terjadi karena kita tidak memiliki rasa bangga terhadap milik kita. Karena itu, kurang perhatian terhadapnya. Kurang perhatian itulah penyebab sebagian besar bangsa Indonesia tidak mahir berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Siapa pun kita, mungkin pejabat, para cendekia, guru, para pelaku ekonomi dan sebagainya, marilah kita bersama-sama mulai memusatkan perhatian pada milik kita, milik nasional, bahasa Indonesia yang harus kita junjung tinggi.
Pembinaan keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar salah satunya melalui sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Setelah 80 tahun bahasa Indonesia lahir dan setelah 63 tahun negeri kita merdeka, sudah seharusnya sekolah-sekolah mampu menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang terampil berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan. Kenyataannya tidaklah demikian.
Bahasa sebagian pejabat, pemuka, tokoh masyarakat di pusat maupun di daerah dew@sa ini belum dapat dijadikan acuan. Bahasa yang digunakan dalam media masa masih sering banyak kesalahan.  Hal itu membuktikan bahwa sekolah belum dapat memberikan yang sebaik-baiknya dari hasil pembelajaran bahasa Indonesia.
Mengingat kenyataan tersebut, kita perlu kembali ke dunia pendidikan yang menurut adat menjadi pesemaian para pemimpin, para pelaku di berbagai bidang kehidupan. Ragam bahasa yang diajarkan dan dikembangkan di dalam lingkungan itulah yang akan menjadi ragam bahasa pemimpin dan para pelaku pada berbagai bidang kehidupan kita mendatang. Akhirnya pada suatu saat bahasa Indonesia yang baku memang dapat disamakan dengan ragam bahasa golongan pemuka yang memancarkan gengsi dan wibawa kemasyarakatan.
Sudah sama-sama kita ketahui bahwa pembelajaran bahasa Indonesia memang tidak menarik minat siswa. Itu sebabnya guru harus dapat menanamkan pengertian kepada siswa akan pentingnya penguasaan bahasa Indonesia, harus dapat menumbuhkan kesadaran siswa bahwa bahasa Indonesia adalah milik nasional yang harus kita junjung tinggi. Siswa harus disadarkan bahwa penguasaan bahasa Indonesia dengan baik akan membantunya untuk memahami mata pelajaran lain dengan baik pula. Bimbingan seperti ini harus diberikan terus-menerus sehingga menampakkan hasil.
Cara guru menyajikan pelajaran harus berlandaskan pada tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu keterampilan berbahasa Indonesia. Kembalikan pembelajaran bahasa Indonesia pada hakikat bahasa yaitu sebagai alat komunikasi. Guru harus menanamkan pemahaman, harus dapat membuat siswa mampu merasakan isi dan makna, dapat membuat siswa sanggup menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Sudah tiba saatnya menilai kembali soal-soal ujian bahasa yang diberikan pada setiap jenis ujian. Tonjolkan soal-soal bahasa yang praktis. Dengan demikian, guru membimbing siswa menjadi orang Indonesia yang dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Guru mata pelajaran lain pun harus memiliki kesadaran bahwa pembinaan siswa dalam penguasaan bahasa Indonesia bukanlah hanya tugas guru bahasa Indonesia, tetapi menjadi tugas setiap orang Indonesia yang mencintai milik nasionalnya. Guru adalah panutan bagi para siswa. Bagaimana siswa akan menjadi baik jika orang yang menjadi panutannya tidak dapat memberikan teladan yang baik.
Perpustakaan sekolah sangat membantu siswa memahami bahasa tulis dengan baik, memupuk penguasaan bahasa dengan baik. Siswa harus dibiasakan mengunjungi perpustakaan, membaca dan belajar di perpustakaan. Siswa harus dipupuk untuk gemar membaca. Orang yang banyak membaca pastilah penguasaan bahasanya lebih baik daripada orang yang tidak atau jarang membaca.
Dalam tulisan ini, penulis sedikit pun tidak bermaksud untuk menggurui bagaimana berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Tulisan ini dimaksudkan untuk menggugah kembali setiap orang yang mengaku bangsa Indonesia untuk lebih memperhatikan penggunaan bahasa Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjadi bahan renungan pada bulan bahasa 2008 ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat. Semoga.
Banggakah Pada Bahasa Indonesia?
Penulis : Nanang Ruhyani, S.Pd.
*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Tribun Jabar,  Agustus 2008

Previous
« Prev Post

Related Posts

22:50:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!