NADI GURU BLOG

Evolusi Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia

Posted by Dede Taufik on Sunday, 1 May 2016

Pada bulan Oktober 2011 ini, usia bahasa Indonesia menginjak 83 tahun. Jika membandingkan dengan umur manusia, usia 83 tahun tentu sudah sangat tua, sudah bau tanah. Namun, pada bidang bahasa, usia tersebut masih sangat muda dan masih akan terus berkembang.  Pada kesempatan ini marilah kita menoleh ke belakang, mengingat-ingat kembali perjalanan evolusi bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, menelusuri sejarah perkembangan bahasa Indonesia untuk kita renungi pada bulan bahasa ini.
Dalam benak kita sudah tertanam informasi bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Benarkah informasi yang kita dapatkan tersebut? Agaknya terlalu sederhana untuk mengatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Bahasa Melayu Riau hanyalah merupakan satu dialek di antara sekian banyak dialek  bahasa Melayu yang lain.
Menurut sejarah, zaman dahulu di Nusantara ini sudah berkembang suatu bahasa perhubungan, suatu lingua franca, yang disebut bahasa Melayu Pasar. Bahasa Melayu Pasar inilah yang merupakan faktor yang paling penting untuk diterimanya bahasa Melayu  menjadi bahasa Indonesia.
Perkembangan bahasa Melayu  menjadi bahasa Indonesia dapat kita telusuri dari fakta-fakta historis. Untuk lebih memfokuskan pembahasan, penulis uraikan dalam empat periode perkembangan, yaitu periode sebelum penjajahan, periode penjajahan, periode pergerakan nasional, dan periode kemerdekaan.

Periode Sebelum Penjajahan
Bukti-bukti tertulis mengenai penggunaan dan penyebaran bahasa Melayu ditemukan pada prasasti. Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya pada umumnya menggunakan bahasa Melayu. Prasasti-prasasti tersebut di antaranya di Kedukan Bukit yang berangka tahun 683 M, di Talang Tuwo (dekat Palembang) berangka tahun 686 M, serta di Karang Brahi yang berangka tahun 688 M.
Di Pulau Jawa ditemukan prasasti yang terkenal dengan nama Inskripsi Gandasuli berangka tahun 832 di daerah Kedu. Berdasarkan hasil penelitian Dr. J.G. de Casparis, bahasa yang digunakan dalam prasasti tersebut adalah bahasa Melayu Kuno. Keberadaan prasasti Inskripsi Gandasuli membuktikan luasnya penyebaran dan pemakaian bahasa Melayu pada waktu itu. Selain itu, data empiris adanya bermacam-macam dialek bahasa Melayu yang tersebar di Nusantara. Kita mengenal dialek Melayu Jakarta, Kupang, Menado, Ambon, dan sebagainya.
Bukti lain luasnya penyebaran dan pemakaian bahasa Melayu adalah dengan ditemukannya suatu batu nisan dengan menggunakan bahasa Melayu di Minye Tujoh, Aceh pada tahun 1380 M. Pada abad ke-14 sampai abad ke-17 kita dapati banyak hasil kesusastraan lama dalam bentuk cerita pelipur lara, hikayat, dongeng, pantun, syair, mantra, dan lain-lain. Karya sastra terkenal di antaranya Sejarah Melayu karya Tun Muhammad Sri Lanang gelar Bendahara Paduka Raja yang diperkirakan ditulis tahun 1616, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Sri Rama, Tajus Salatin dan lain-lain.

Periode Penjajahan
Sekitar abad ke-16 ketika orang-orang Eropa sampai di Nusantara, mereka mendapati kenyataan bahwa bahasa Melayu merupakan bahasa pergaulan, perhubungan, dan perdagangan. Hal ini dikuatkan dengan pengalaman seorang Portugis, Pigafetta. Ia menyusun daftar kata Melayu sekitar tahun 1522 setelah mengunjungi Tidore. Ini membuktikan penyebaran dan pemakaian bahasa Melayu sudah sampai ke Kepulauan Maluku.
Pada masa penjajahan Belanda, mereka menemukan kesulitan ketika bermaksud menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah. Akhirnya, dikeluarkanlah suatu keputusan dari Pemerintah Kolonial yaitu K.B 1871 No. 104, yang menyatakan bahwa pengajaran di sekolah-sekolah bumi putera diberikan dalam bahasa Melayu atau bahasa daerah lainnya. Hal tersebut diutarakan oleh seorang Belanda yang bernama Danckaerts.

Periode Pergerakan Nasional
Awal abad ke-20 dapat dikatakan sebagai permulaan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Banyak fakta historis yang memperkuat pernyataan tersebut. Pada tahun 1901 Ch. A. Van Ophuysen menyusun ejaan resmi bahasa Melayu yang termuat dalam Kitab Logat Melayu. Ejaan ini kemudian terkenal sebagai Ejaan Van Ophuysen. Tujuh  tahun kemudian didirikan Taman Bacaan Rakyat (Commisie voor de Volkslectuur) yang pada tahun 1917 diubah namanya menjadi Balai Pustaka. Pada tahun 1918 keluar ketetapan Ratu Belanda yang memberikan kebebasan kepada para anggota Dewan Rakyat (Volksraad) untuk menggunakan bahasa Melayu dalam forum.
Fakta yang paling utama dan menjadi tonggak sejarah adalah peristiwa Sumpah Pemuda. Bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan bahasa yang beraneka pula merasa sulit menggalang persatuan jika tidak ada alat pemersatu. Alat yang dimaksud adalah bahasa yang dapat menjembatani kesenjangan komunikasi untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan kehendak. Itulah sebabnya, pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda yang tergabung dalam perkumpulan pemuda dari berbagai daerah berkumpul dan berikrar yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Mereka berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu Indonesia. Peristiwa tersebut merupakan pernyataan politik yang jelas ditetapkannya bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia dan berkedudukan sebagai bahasa Nasional.
Setelah peristiwa Sumpah Pemuda, paling tidak ada tiga fakta historis yang mendorong perkembangan bahasa Indonesia. Pertama, terbitnya majalah Pujangga Baru pada bulan Mei 1933. Majalah tersebut dipimpin oleh tiga serangkai pujangga baru yaitu Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane. Majalah inilah yang mendorong munculnya Angkatan Pujangga Baru atau Angkatan ’33 pada kesusastraan Indonesia. Kedua, Kongres Bahasa Indonesia I di Solo pada tahun 1938. Kongres ini diselenggarakan  untuk mencari pegangan bagi pemakai bahasa dan mengusahakan agar bahasa Indonesia tersebar lebih luas lagi di Nusantara. Ketiga, kedatangan Jepang ke Indonesia tahun 1942. Pada masa ini bahasa Indonesia mengalami kemajuan pesat. Hal ini terjadi karena Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dan Inggris di satu sisi dan pada sisi yang lain maksud mereka untuk menggunakan bahasa Jepang sebagai alat komunikasi pun tidak memungkinkan. Akhirnya, bahasa Indonesia yang dijadikan alat komunikasi.

Periode Kemerdekaan
Pada periode ini perkembangan bahasa Indonesia semakin pesat. Hal ini ditunjang oleh peristiwa-peristiwa penting yang mendorong perkembangan bahasa Indonesia. Negara Indonesia yang baru diproklamasikan dengan cepat menetapkan UUD 1945 sebagai UUD Negara Indonesia. Pada UUD 1945 bab XV pasal 36 terdapat pernyataan penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara. Pada tanggal 19 Maret 1947, untuk memperbaiki Ejaan Van Ophuysen ditetapkanlah Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi. Tahun 1954 dilaksanakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Hasil kongres ini di antaranya adalah saran pembentukan badan yang kompeten untuk menyempurnakan bahasa Indonesia, usul pembaruan ejaan, pembentukan komisi istilah, dan sebagainya.
Sebagai tindak lanjut Kongres Bahasa Indonesia II, pada tanggal 16 Agustus 1972 ditetapkan ejaan baru oleh Presiden. Ejaan baru ini dinamai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Tiga tahun kemudian, tepatnya 1 Februari 1975, Lembaga Bahasa Nasional yang selama itu menangani hal-hal yang berkaitan dengan bahasa dan sastra Indonesia diubah menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Setelah Kongres Bahasa Indonesia II, banyak peristiwa yang menjadi fakta historis lainnya. Di antaranya, Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta tahun 1978, penetapan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa pada tanggal 28 Oktober 1980, Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta tahun 1982, Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta tahun 1988, peluncuran pertama Kamus Besar Bahasa Indonesia dan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia tahun 1988 oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta tanggal 28 Oktober – 2 November 1993. Masih banyak lagi peristiwa penting yang menjadi fakta historis menyertai perkembangan bahasa Indonesia sampai saat ini. Peristiwa-peristiwa penting tersebut semakin mengokohkan bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai Bahasa Nasional dan Bahasa Negara.    
Demikianlah sekelumit peristiwa dan fakta historis yang mengiringi perjalanan evolusi bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Dengan demikian, jelaslah bahwa bahasa Melayu tidak serta merta menjadi bahasa Indonesia. Akan tetapi, bahasa Melayu mengalami proses bertahap dan berlangsung dan kurun waktu yang  lama untuk dapat menjadi bahasa Indonesia seperti sekarang. Bahasa Melayu mengalami evolusi. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amin.
Evolusi Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia
Penulis: Nanang Ruhyani, S.Pd.
*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Radar Tasik  edisi Kamis, 27 Oktober 2011 

Previous
« Prev Post

Related Posts

23:05:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!