Keutamaan Hidup Jujur dan Bahaya Berdusta

loading...
loading...
Nadi Guru-Khazanah -  Jujur merupakan suatu perilaku yang menunjukkan ucapan dan perbuatan sesuai dengan kebenaran. Lawan dari jujur adalah dusta. Dew@sa ini, mungkin saja mencari orang jujur sangat sulit. Hal ini dikarenakan tak sedikit dari orang itu melakukan kedustaan untuk kepentingan dirinya sendiri. 

Keutamaan Jujur
Banyak orang mengajar kebahagiaan di balik kemegahan materi. Padahal, itu semua hanyalah kesemuan belaka. Kalau ingin bahagia jujurlah. Jujur kepada Allah sebagai hamba-Nya, jangan basa-basi dan jangan setengah-setengah. 
Jujur sebagai suami, maka selalu menjauhi dosa dan memberikan nafkah secara halal dan maksimal. Jujur sebagai istri maka selalu menjaga kehormatan diri dan harta suami dan benar-benar menjadi tempat berteduh bagi suami. Jujur sebagai pemimpin, maka selalu menjunjung tinggi asa musyawarah dan bekerja keras untuk menegakkan keadilan dan memastikan kesejahtraan rakyatnya.
Bila kejujuran seperti tersebut di atas terwujud, banyak hikmah yang akan dipetik. hikmah itu diantaranya: 
1. Jujur akan mengantarkan ke surga. 
Rasulullah SAW bersabda: 
“Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga … dan sungguh kebohongan akan mengatarkan kepada dosa, dan dosa akan mengantarkan kepada neraka .…” (HR Bukhari-Muslim).
Berdasarkan ini, jelas bahwa tidak mungkin kebaikan akan datang jika manusia yang berkumpul di dalamnya adalah para pembohong dan pendusta. Bila di tengah mereka menyebar kebohongan maka otomatis dosa akan semakin merajalela. Bila dosa merajalela maka jamainanya adalah neraka.

2. Jujur akan melahirkan ketenangan
Rasulullah SAW bersabda:
 “… maka sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kebohongan adalah keraguan .…” (HR Turmidzi). 
Orang yang selalu jujur akan selalu tenang, sebab ia selalu membawa kebenaran. Sebaliknya, para pembohong selalu membawa kebusukan dan kebusukan itu membawa kegelisahan akibat kebusukannya. Ia akan selalu dihantui dengan kebohongannya dan takut hal itu akan terbongkar. Dan, bila seorang pembohong seperti ini menjadi pemimpin maka ia tidak akan sempat mengurus rakyatnya, karena ia sibuk menyembunyikan kebusukan dalam dirinya.

3. Jujur disukai semua manusia
Abu Sofyan pernah ditanya oleh Heraklius mengenai dakwah Rasulullah SAW.  Abu Sofyan menjelaskan bahwa di antara dakwahnya adalah mengajak berbuat jujur. (HR Bukhari-Muslim).
Rasulullah SAW terkenal sebagai manusia yang paling jujur. Bahkan, sebelum kedatangan Islam, beliau sudah masyhur sebagai orang yang jujur. Orang-orang kafir Makkah pun mengakui kejujuran Rasulullah SAW, sekalipun mereka tidak beriman. Bahkan, mereka memberi gelar al-Amin (orang yang tepercaya) kepada Rasulullah. Selain itu, mereka juga selalu menitipkan barang berharga kepada Rasul SAW.

4. Jujur akan mengantarkan pelakunya pada derajat tertinggi
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memohon dengan jujur untuk mati syahid, (maka ketika ia wafat) ia akan tergolong syuhada sekalipun mati di atas kasurnya.” (HR Muslim).

5. jujur akan mengantarkan pada keberkahan
Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa seorang pembeli dan pedagang yang jujur dalam melakukan transaksi perdagangannya maka ia akan diberkahi oleh Allah. Sebaliknya, jika menipu maka Allah akan mencabut keberkahan dagangannya. (HR Bukhari Muslim). Wallahu a’lam.

Bahaya Dusta
Rasulullah SAW bersabda: “Mendekati kiamat akan muncul para pendusta. Maka, berhati-hatilah terhadap mereka.” (HR Muslim). 
Hadis ini menggambarkan kondisi akhir zaman. Suatu kondisi yang tampaknya mulai terasa sekarang, seiring dengan melemahnya nilai-nilai iman.
Saat ini orang sudah tidak merasa risih berdusta. Bahkan kedustaan, kebohongan, dan kepalsuan masuk ke dalam seluruh sendi kehidupan. Mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, bisnis, hiburan, politik, birokrasi, hingga pemerintahan. Semuanya tidak lepas dari praktik dusta, kecurangan, dan kepalsuan. Ada yang berdusta untuk kepentingan dunia; untuk mendapatkan harta, takhta, dan wanita. Ada yang berdusta untuk mencelakakan saudara karena dendam dan kebencian. 
Ada juga yang berdusta karena canda, hobi, dan kebiasaan. Akhirnya, virus penyakit dusta ini menyebar ke mana-mana. Cukuplah kita memahami bahaya besar dari berdusta ketika Allah menyebutkannya dalam Alquran sebanyak 280 kali seraya memberikan ancaman keras kepada orang yang biasa berdusta sekaligus menafikan keimanannya. 
Di antaranya, Allah SWT berfirman:
“Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang boros dan pendusta.” (QS Ghafir:28). “Celaka bagi orang yang pembohong dan pendosa.” (QS al-Jatsiyah:7). “Orang yang mengadakan kebohongan adalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Mereka adalah para pendusta.” (QS an-Nahl: 105).
Di antara dampak buruk dan bahaya dusta adalah sebagai berikut. 

1. Berdusta membuat pelakunya tidak bisa tenang dan selalu merasa gelisah
Rasulullah SAW bersabda:
 “Jujur mendatangkan ketenangan sementara dusta mendatangkan keragu-raguan (kegelisahan).” 
Bagaimana bisa tenang, orang yang berdusta akan selalu dibayang-bayangi rasa takut dan khawatir kalau kebohongannya diketahui orang.

2. Dusta menjadi penyebab jatuhnya citra, nama baik, dan kehormatan si pelaku
Orang menjadi kehilangan kepercayaan padanya. Bayangkan kalau dalam satu komunitas satu dengan yang lain sudah tidak saling mempercayai.

3. Dusta menjadi bagian dari bentuk kemunafikan sehingga mengancam eksistensi iman
Rasulullah SAW bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga. Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila dipercaya ia khianat.” (HR Bukhari dan Muslim).

4. Di sisi Allah ia tidak akan bisa selamat
Kalaupun si pendusta selamat dan aman di dunia, ia berhasil membungkus segala kepalsuan, kedustaaan, dan kebohongannya dengan berbagai macam intrik dan tipu daya sehingga orang tetap percaya maka di sisi Allah ia tidak akan bisa selamat. 
Bahkan, dalam hadis disebutkan, “Dusta mengantar pada kejahatan, dan kejahatan mengantar kepada neraka. Manakala seseorang terus berdusta dan berusaha berdusta, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR Bukhari).
Karena itu, tidak ada jalan lain bahwa hidup tenang, bahagia, terhormat, dipercaya, dan sukses dunia akhirat hanya bisa didapat dengan kejujuran. Kejujuran adalah modal dasar orang-orang istimewa. 
Allah SW berfirman, “Ceritakan (wahai Muhammad SAW) kisah Ibrahim dalam al-Kitab (Alquran). Ia adalah orang yang jujur dan juga seorang nabi.” (QS Maryam: 41).
“Ceritakan (wahai Muhammad SAW) kisah Idris dalam al-Kitab (Alquran). Ia adalah orang yang jujur dan juga seorang nabi.” (QS Maryam: 56). 
Nabi Yusuf AS juga disebut dan dikenal sebagai orang jujur (lihat QS Yusuf ayat 46). Apalagi, Nabi Muhammad SAW, sejak muda beliau dikenal sebagai sosok yang jujur dan dapat dipercaya. 
Keutamaan Hidup Jujur dan Bahaya Berdusta
Sumber: 
1. Republika 
2. Cahaya Wahyu
loading...

Artikel Terkait

Keutamaan Hidup Jujur dan Bahaya Berdusta
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!