Menciptakan Perpustakaan Keluarga Di Rumah Sendiri

loading...
loading...
Nadi Guru - Membaca merupakan kebutuhan penting bagi manusia untuk mendapatkan berbagai pengetahuan. Membaca harus dijadikan sebagai kebiasaan rutin di dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi persaingan yang semakin ketat, menuntut seseorang untuk lebih memiliki wawasan luas. Namun sayangnya, kebiasaan atau budaya baca masyarakat Indonesia masih rendah.
Menciptakan Perpustakaan Keluarga Di Rumah Sendiri
Bahkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan pernah mengatakan, jika budaya membaca di Indonesia masih sulit untuk diterapkan. Sementara itu, berdasarkan data dari UNESCO pada tahun 2011, menunjukkan bahwa indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu dari seribu orang yang memiliki kebiasaan membaca buku dengan serius.
Dengan begitu, salah satu cara untuk meningkatkan budaya baca bagi masyarakat Indonesia tersebut adalah dengan menciptakan perpustakaan keluarga. Dalam hal ini, setiap keluarga disarankan untuk memiliki perpustakaan sendiri di rumahnya masing-masing. Tentunya, untuk mewujudkannya bukanlah perkara yang mudah. Namun, butuh kesadaran yang tinggi dari masing-masing setiap keluarga.
Apalagi, jika rumah yang ditinggalinya sempit atau bahkan sangat sempit sehingga tak memungkinkan untuk menyediakan perpustakaan tersebut. Tapi semua itu hanyalah sebatas alasan, pasalnya sesempit apapun rumah itu ternyata masih ada celah untuk menyimpan televisi (TV). Hal ini dapat terlihat, jika hampir seluruh keluarga memiliki TV di rumahnya masing-masing.
Sementara untuk perpustakaan, hanya sebagian kecil yang memilikinya. Bahkan, nyaris sulit untuk ditemukan karena hanya orang-orang tertentu yang sudah mampu memiliki perpustakaan di rumah sendiri. Maka jangan heran, jika budaya membaca bagi masyarakat Indonesia sangat sulit untuk diterapkan seperti yang telah dikatakan oleh Mendikbud.
Sebagai tahap awal, bagi keluarga yang secara ekonomi ‘mampu’ untuk menyediakan perpustakaannya di rumah. Terlebih dahulu dijadikan sebagai sasaran yang disarankan untuk menciptakan perpustakaan keluarga. Tak perlu mewah apalagi dijadikan sebagai beban, tapi cukup dengan memanfaatkan ruangan yang telah ada seperti ruang tamu atau tempat berkumpul keluarga.
Sementara untuk tahap awal dalam penyediaan bukunya, bisa memanfaatkan buku-buku yang sudah ada. Misalnya saja, buku bekas masa-masa kuliah (sekolah) atau juga buku penting keluarga seperti buku bacaan solat, buku kumpulan do’a sehari-hari, dan lain-lain. Pokoknya, buku-buku yang memiliki manfaat bagi keluarga, termasuk juga anak-anak.
Setelah itu, barulah melangkah jauh dalam penyediaan bukunya. Tentunya, ini membutuhkan pengorbanan karena keluarga juga harus menyisihkan sebagian uangnya demi membeli buku. Padahal, di waktu sebelumnya kebutuhan ini tidak termasuk dalam kebutuhan rutin yang harus dikeluarkan.
Meskipun untuk mengawalinya memang berat, tapi percayalah jika suatu saat hal ini akan memiliki dampak besar terhadap perkembangan keluarga itu sendiri. Keluarga itu akan memiliki kebiasan untuk membaca, sehingga budaya baca perlahan-lahan akan mengalami peningkatan. Yang merasakan manfaatnya bukan orang lain, tetapi bagi keluarga yang telah berusaha untuk menciptakan perpustakaan keluarga.
Salah satu manfaatnya adalah bagi anak kita. Anak, akan meniru dari perilaku orangtuanya. Jika orangtunya memiliki budaya gemar membaca, pastinya anak pun akan menirunya untuk menggemari kebiasaan membaca. Dalam hal ini perilaku tersebut merupakan suatu bentuk penerapan keteladan yang nyata dari para orangtua kepada anak-anaknya.
Bahkan, tanpa disuruh pun ke depannya anak kita akan melakukan kegiatan membaca dengan sendirinya. Pasalnya, dalam dirinya telah tertanam suatu rasa disiplin untuk selalu menyempatkan diri membaca buku. Baginya, kegiatan membaca akan menjadi suatu kebutuhan yang harus dilakukan dengan rutin dalam setiap harinya. Dengan begitu, kita selaku orangtua tidak perlu susah payah lagi untuk menyuruh anak membaca buku.
Berbeda halnya dengan berbagai kasus yang seringkali terjadi di masa sekarang ini. Di mana ketika orangtua menyuruh anaknya untuk belajar (membaca), hampir anak-anak itu mengabaikan perintah orangtuanya. Berbagai alasan pun terlontar dari si anak, mulai karena alasan sedang asyik menonton TV maupun juga sedang asyik bermain ‘gadget’. Hal itu tidak lantas harus menyalahkan anak karena tidak mau menuruti perintahnya.
Namun, sebagai orangtua harus sadar terhadap diri sendiri. Apakah ketika orangtua menyuruh anaknya untuk belajar, dirinya sendiri sedang membaca buku atau malah asyik menonton sinetron kesukaannya di TV? Idealnya, ketika anak disuruh untuk belajar, maka orangtua harus ikut mendampingi anaknya belajar. Sementara itu selama waktu belajar berlangsung, TV-nya dimatikan terlebih dahulu agar anak bisa konsentrasi terhadap apa-apa yang sedang dipelajarinya.
Khusus bagi orangtua yang memiliki anak pada usia dini, ternyata mengajarkan anak membaca sejak dini bisa memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kemampuan membacanya di masa depan. Hal ini sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Dolores Durkin selama enam tahun (1958-1964), yang fokus mendalami dan mengadakan berbagai studi kasus dalam penelitiannya. Setidaknya, terdapat tiga kesimpulan yang diperoleh. Pertama, anak yang bisa membaca sejak dini ternyata senantiasa bisa mengungguli kemampuan membaca anak yang terlambat, hingga ke jenjang SMP.
Kedua, Kemampuan membaca sejak dini ternyata tidak berhubungan dengan IQ anak. Namun, berhubungan dengan suasana di rumah dan keluarganya. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini, ternyata muncul dari keluarga yang mempunyai perhatian dan usaha ekstra dalam membantu mereka belajar membaca. Ketiga, Kemampuan membaca sejak dini juga tidak berhubungan dengan kondisi sosial-ekonomi. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata memiliki orangtua yang mau menyempatkan waktu untuk kegiatan membaca bersama anaknya. Meskipun memiliki latar belakang sosial-ekonomi yang berbeda.

Nampaknya, suatu kebanggaan bagi Indonesia jika memiliki masyarakat yang memiliki budaya baca tinggi. Dengan begitu, besar harapan jika gerakan untuk menciptakan perpustakaan keluarga dapat diwujudkan. Setidaknya, terlebih dahulu dilakukan oleh orang orang kaum intelek seperti guru dan juga dosen. Selain itu, dilakukan juga oleh orang-orang yang telah mampu secara ekonomi. Kemudian, menularkannya kepada keluarga yang lain sehingga masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang gemar membaca dan indeks membaca masyarakat Indonesia pun bisa meningkat. Semoga… 
loading...

Artikel Terkait

Menciptakan Perpustakaan Keluarga Di Rumah Sendiri
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!