Mendidik Budi Pekerti dengan Mengajarkan Pupuh

loading...
loading...
Dalam khasanah sastra Sunda terdapat satu bentuk sastra yang disebut guguritan atau puisi. Salah satu bentuk guguritan atau puisi tersebut adalah pupuh. Pupuh adalah bentuk puisi Sunda yang terikat oleh sajak akhir atau rima (guru lagu) dan jumlah suku kata tiap larik atau padalisan ( guru wilangan).
Kita sudah mafhum bersama, pupuh dalam sastra Sunda ada tujuh belas yaitu Kinanti, Asmarandana, Sinom, Dangdanggula, Balakbak, Maskumambang, Ladrang, Pucung, Lambang, Mijil, Durma, Pangkur, Gambuh, Gurisa, Wirangrong, Magatru, dan Jurudemung. Ketujuh belas pupuh tersebut terbagi dua kelompok yaitu sekar ageung dan sekar alit. Yang termasuk sekar ageung yaitu Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula. Sisanya dimasukkan ke dalam sekar alit.
Ketika kita mengajarkan pupuh, sebenarnya tidak terlalu penting kita memberikan informasi teoritis seperti di atas. Ada hal yang lebih esensial yang terkandung dalam pengajaran pupuh yaitu pendidikan budi pekerti.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa budi pekerti adalah tingkah laku, perangai, akhlak. Dengan demikian, pendidikan budi pekerti adalah pendidikan yang mengarah pada ranah afektif dan psikomotorik yaitu perubahan tingkah laku, perangai, atau akhlak anak didik ke arah yang lebih baik. Kita menyentuh ranah afektif anak didik dengan nyanyian (hariring) pupuh.
Setiap pupuh mempunyai karakter masing-masing seperti untuk menggambarkan nilai hidup hemat, saling menghormati, nasihat, rasa empatik, rasa penyesalan, bahkan lelucon.
Pupuh Pucung dapat membantu kita menasihati anak didik tentang persaudaraan, saling bantu, saling menjaga,  seperti larik-larik berikut:
 Utamana jalma kudu loba batur
Keur silih tulungan
Silih titipkeun nya diri
Budi akal lantaran ti padajalma
Pupuh Maskumambang dapat digunakan untuk mendidik budi pekerti anak didik tentang rasa empatik, solidaritas, rasa prihatin, seperti syair yang berbunyi:
Duh manusa mana kaniaya teuing
Teu aya rasrasan
Abong ka makhluk nu laip
Nyiksa henteu jeung aturan
              Pupuh Jurudemung yang syairnya sebagai berikut:
Duh ema abdi hampura
Kaduhung sagede gunung
Sakola teu nepi
Ngadon ulin nyanyabaan
Oge wani-wani udud

Hanjelu, hanjelu pisan
Osok gaul teu paruguh
Babari kataji
Ceuk batur mah cenah ngeunah
Jadina yeuh abdi nyandu

Hanjelu salega dunya
Ayeuna abdi ngaringkuk
Di kantor polisi
Alatan beunang rajia
Kaduhung ngalajur napsu.
dapat  dimanfaatkan untuk pendidikan budi pekerti bahwa salah bertindak, berperilaku menurutkan hawa napsu tanpa perhitungan yang matang akan mendapatkan ganjaran yang merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Penyesalan yang terlambat tidak ada gunanya.
Pupuh Asmarandana dapat dijadikan bahan ajar sambil mendidik budi pekerti berperilaku baik, bertutur kata sopan, dan berakhlak mulia, seperti larik-larik berikut:
Sing arapal he anaking
Mun jeung kolot cacarita
Ulah sok bari ngabeleng
Huak-haok jeung sesentak
Kudu nyarita sopan
Ngarah kolot henteu bendu
Nyebut hidep teu nyakola

Sing aringet he anaking
Lamun dhar ge sing sopan
Ulah bari lujag-lejeg
Nyorocos loba nyarita
Boh bisi kabesekan
Dahar kudu bari diuk
Oge babacaan heula.

Penulis sangat setuju dengan paparan Bapak Miftahul Aliyah dalam rubrik ini tanggal 7 Mei 2008 dalam mengajarkan pupuh terhadap anak didik dengan menggunakan pendekatan hermeneutika atau metode tafsir.
Seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air, sambil kita mengajarkan pupuh yang sarat dengan nilai, norma, dan petuah; kita mendidik budi pekerti anak didik. Semoga anak didik kita mempunyai budi pekerti yang baik, perangai halus, dan akhlak mulia. Semoga.
Mendidik Budi Pekerti dengan Mengajarkan Pupuh
Penulis: Nanang Ruhyani, S.Pd.
*) Tulisan ini pernah dimuat dalam HU Tribun Jabar edisi Selasa, 3 Juni 2009.
loading...

Artikel Terkait

Mendidik Budi Pekerti dengan Mengajarkan Pupuh
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!