Peran Orang Tua dalam Proses Belajar Anak

loading...
loading...
Kita sudah maklum bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, seluruh komponen bangsa. Orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan. Akan tetapi pada kenyataannya kadang-kadang terdapat ketidakseimbangan dalam hal tanggung jawab terhadap pendidikan, khususnya proses belajar anak. Kadang-kadang terjadi, jika anak berhasil dalam proses belajar, orang tua menepuk dada, itulah anak saya. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, orang tua dengan lantang mengatakan bahwa sekolah, khususnya guru tidak mampu mendidik dan mengajar anaknya.
Sebuah film, sinetron, drama dikatakan baik dan dapat menarik perhatian penonton karena adanya peran sutradara, aktor, dan alur cerita, di samping pendukung yang lainnya. Proses belajar anak dapat dianalogikan dengan film, sinetron, atau drama seperti dijelaskan di atas. Jika orang tua diibaratkan sebagai sutradara dan anak diibaratkan sebagai aktor serta pembelajaran diibaratkan sebagai alur cerita, antara orang tua, anak, dan pembelajaran harus ada hubungan yang sinergis.
Hal ini berarti apabila orang tua sebagai sutradara belajar dan anak sebagai aktor yang harus melakukan proses belajar, tidak dapat lepas dari pemahaman makna belajar dan tujuan pembelajaran. Seandainya tidak ada hubungan yang sinergis, yang akan terjadi adalah rasa lelah orang tua yang dikejar oleh keinginan sendiri dan kelelahan anak sebagai pemeran utama (yang tidak didasari oleh karakter pribadinya).
Untuk mendorong anak mencapai proses belajar yang optimal, kita sebagai orang tua dapat melakukan beberapa langkah (Suherman, Uman, 2000), yakni:
1. Memahami anak kita
Hampir semua orang tua hafal dengan baik apabila orang lain bertanya, siapa anak kita dan tanggal berapa kelahirannya. Akan tetapi, pemahaman lebih dalam tentang anak kita sebagai subjek utama proses belajar, kadang-kadang tidak terlalu dipikirkan. Sebagai subjek belajar, anak merupakan input dengan berbagai karakteristik dan latar belakang yang kehidupan pribadinya. Anak memiliki karakteristik fisik, kecerdasan, bakat, sikap, kebiasaan belajar, kebutuhan, minat, dan prestasi kehidupannya.
2. Memahami diri kita
Kemampuan orang tua dalam membimbing anak memberikan kontribusi dan pengaruh yang tidak kecil terhadap proses belajar anak. Evaluasi diri dan introspeksi diri sebagai orang tua sangat dituntut agar pada saatnya kita mampu menyesuaikan perbedaan karakteristik itu sehingga tidak terjadi salah didikan atau salah asuhan.
3. Memahami komponen pendukung
Komponen ini lebih dititikberatkan pada fasilitas pendukung belajar anak. Komponen ini bukan merupakan faktor utama. Akan tetapi, ketersediaan dan kelayakan fasilitas proses belajar cukup berperan dalam menentukan proses dan hasil pembelajaran. 
4. Memahami komponen lingkungan
Lingkungan sangat berperan menentukan perilaku individu. Oleh karena itu, perilaku belajar anak tidak terlepas dari lingkungannya. Dengan kata lain, mustahil kita menghasilkan anak yang berhasil dalam proses belajar jika anak berada di lingkungan yang tidak kondusif untuk belajar.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa memang peran orang tua sangat besar dalam keberhasilan proses belajar anak. Tentu dengan tidak mengabaikan komponen pendidikan yang lain. Tanggung jawab untuk mendidik dan mengajari anak bukan hanya di pundak guru. Di antara komponen pendidikan tersebut diharapkan terdapat keseimbangan peran dan tanggung jawab. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita dalam menciptakan generasi muda yang berkualitas. Semoga!
Peran Orang Tua dalam Proses Belajar Anak
Penulis: Nanang Ruhyani, S.Pd.
*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat tanggal 5 April 2008
loading...

Artikel Terkait

Peran Orang Tua dalam Proses Belajar Anak
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!