NADI GURU BLOG

PTK, Jembatan Guru Menjadi Praktisi dan Peneliti

Posted by Dede Taufik on Sunday, 1 May 2016

Akhir-akhir ini penelitian tindakan semakin menjadi trend untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Pada mulanya penelitian tindakan ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (penganguran, kenakalan remaja, dll.) yang berkembang di masyarakat.
Penelitian tindakan dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah  secara sistematis. Hasil kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaannya, rencana yang telah disusun diobservasi dan dievaluasi. Hasil observasi dan evaluasi dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahapan pelaksanaan. Hasil dari proses refleksi ini dijadikan landasan upaya perbaikan dan penyempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan tersebut dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai.
Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahapan-tahapan PTK, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelas dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Jadi, PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di kelas. Dengan melaksanakan PTK guru mempunyai peran ganda yaitu sebagai praktisi dan peneliti.
PTK pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946.  Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli yang lain seperti Stephen Kemmis, Robin Mc Taggart, John Elliot, dan Dave Ebbutt.
Di Indonesia PTK baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karena itu, sampai saat ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadi pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.
Bagaimana hakikat PTK? Menurut John Elliot, PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). Seluruh prosesnya: diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan professional.
Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart yang mengatakan bahwa PTK adalah  suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukannya praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).
Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutif  oleh Siswojo Hardjodipuro dikatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan  (guru, siswa, atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan (c) situasi-situasi tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Hardjodipuro, 1997).
Lebih lanjut, Hardjodipuro menjelaskan bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau mengubahnya. PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap praktik mengajar dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersikap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara professional.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesionalitas seorang guru. Adapun alasan-alasannya sebagai berikut. Pertama, PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelas. Kedua, PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi professional. Ketiga, dengan melaksanakan PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap masalah yang terjadi di kelas. Keempat, pelaksanaan PTK tidak mengganggu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelas. Kelima, dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, jelaslah bahwa dilakaukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintrospeksi, bercermin, merefleksi, dan mengevaluasi dirinya sehingga kemampuannya sebagai seorang guru diharapkan cukup professional. Selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran, keterampilan, pengetahuan, hubungan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didik menuju kedewasaan.
Dengan melaksanakan PTK guru berkedudukan sebagai peneliti yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realistis, dan rasional. Di samping itu, dengan meneliti semua “aksi”nya di depan kelas, guru mengetahui secara persis kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan KBM masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas tidak terjadi permasalahan. Dengan demikian, KBM akan semakin berkualitas dan dapat meningkatkan kualitas anak didik.
Sebagai paradigma sebuah penelitian tersendiri, PTK memiliki karakteristik yang relatif agak berbeda jika dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, misalnya penelitian naturalitik, eksperimen, survei, analisis isi, dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan jenis penelitian yang lain, PTK dapat dikategorikan sebagai penelitian kualitatif dan eksperimen. PTK dikategorikan sebagai penelitian kualitatif karena pada saat data dianalisis digunakan pendekatan kualitatif, tanpa adanya perhitungan statistik. Dikatakan sebagai penelitian eksperimen karena PTK diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya tindakan.
PTK mempunyai beberapa karakteristik di antaranya: (1) didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran; (2) adanya kolaborasi dalam pelaksanaan;  (3) peneliti sekaligus praktisi yang melakukan refleksi; (4) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik pembelajaran; dan (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengen beberapa siklus.
Menurut Chein terdapat empat jenis PTK, yaitu PTK diagnostik, PTK partisipan, PTK empiris dan PTK eksperimental. Di bawah akan penulis kemukakan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut berdasarkan penjelasan Chein.
PTK diagnostik adalah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah   suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosis dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. PTK partisipan  ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelitian terlibat langsung di dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian yang berupa laporan. PTK empiris adalah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukukan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selam tindakan berlangsung. PTK eksperimental adalah apabila PTK dilaksanakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatan belajar mengajar (KBM).
Demikianlah hal-hal yang berkaitan dengan PTK. Jelaslah, bahwa PTK merupakan suatu jembatan bagi guru untuk menjadi praktisi dan peneliti. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita, guru yang peduli dengan peningkatan kualitas pembelajaran, peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya.
PTK, Jembatan Guru Menjadi Praktisi dan Peneliti
Penulis: Nanang Ruhyani, S.Pd.
*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat edisi Rabu, 28 Januari 2009

Previous
« Prev Post

Related Posts

23:27:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!