Menghadapi MEA Melalui Pendidikan Berkualitas

loading...
loading...
Menghadapi MEA Melalui Pendidikan Berkualitas --- Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), menuntut kualitas sumber daya alam (SDM) yang handal. Oleh karena itu, Indonesia sebagai bagian dari MEA, harus meningkatkan SDM-nya dengan pendidikan yang berkualitas.
Data yang dilansir dari McKinsey (2012), Indonesia diprediksi akan menjadi negara perekonomian terbesar ke-7 di dunia pada tahun 2030 mendatang. Indonesia membutuhkan 113 juta generasi muda yang terampil. Faktanya, saat ini Indonesia baru bisa menyediakan SDM kompeten sebanyak 55 juta orang.
Sementara itu data BPS (2010), menunjukkan bahwa SDM Indonesia masih didominasi oleh tenaga kerja berkompetensi rendah, yakni 88 juta orang. Kenyataan ini diperparah dengan temuan bahwa Indonesia baru mampu meluluskan sekitar 30.000 dari 50.000 sarjana per tahun yang dibutuhkan oleh industri.
Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja ini mengakibatkan sejumlah posisi penting di perusahaan-perusahaan terpaksa dijabat oleh tenaga kerja asing. Menurut Boston Consulting Group (2013), Indonesia kekurangan tenaga kerja hingga 17 persen untuk menjabat sebagai manajer junior dan 50 persen untuk menjabat sebagai manajer berpengalaman.
Generasi muda perlu dibekali kompetensi keahlian agar bisa menjadi pemimpin di negerinya sendiri. Pertanyannya, bagaimana cara yang baik untuk mematangkan kompetensi generasi muda ini?
Sistem pendidikan yang baik adalah jawabannya. Guna menjawab tantangan era ini, ada baiknya kita menilik sistem pendidikan negara maju seperti Amerika yang terbukti sudah melahirkan banyak sekali inovator muda dunia dari masa ke masa.
Sistem pendidikan yang kini berkembang pesat di Amerika adalah Science Technology Engineering Arts and Math (STEAM). Kelebihannya, mendukung siswa dalam berpikir kritis, mengasah keterampilan berkomunikasi, mendorong daya analisa, mampu memecahkan masalah dan student oriented.
Di Indonesia, satu-satunya perguruan tinggi yang menerapkan sistem pendidikan berbasis STEAM tersebut adalah Sampoerna University.

“Sampoerna University menerapkan pendekatan unik, melalui penekanan dasar pada bidang matematika, sains terapan, teknologi, sosial dan kemanusiaan yang mendorong para mahasiswa untuk berpikir kreatif, inovatif, serta mampu berorientasi pada pemecahan masalah,” ujar Rektor Sampoerna University Drs. Wahdi Salasi April Yudhi, M.Dev.Admin, Ph.D. saat ditemui detikcom di kantornya di Gedung L'avenue, Pasar minggu, Jakarta selatan.

Menurut pria kelahiran Yogyakarta, 1 April 1958 ini, mahasiswa-mahasiswa di Indonesia masih banyak yang menyukai ilmu-ilmu humaniora. Sehingga kompetisi di dunia internasional tertinggal dari mahasiswa-mahasiswa dari negara lain.

“Dengan menyadari itu, kita bertekad menggunakan STEAM untuk meningkatkan kualitas mereka anak didik di bidang itu,” jelas pria yang pernah menjabat sebagai atase pendidikan dan budaya di KBRI Canberra ini.

Wahdi mencontohkan, di Fakultas Sains dan Teknologi mahasiswa juga disisipkan pendidikan Seni (arts). Sehingga para calon insinyur itu nantinya juga bisa berkomunikasi dengan baik. Begitu juga di Fakultas Bisnis, ilmu matematika menjadi salah satu ilmu yang ditekankan agar mahasiswa memiliki kemampuan berhitung yang handal.

“Karena bisnis apapun ujungnya matematika. Semuanya kan kembali ke matematika, guyonnya, semua UUD atau ujung-ujungnya duit. Kalau Anda nggak bisa berhitung, mau jual beli gimana,” ungkapnya.

Sampoerna University juga bekerjasama dengan berbagai institusi pendidikan dari Amerika. Salah satunya adalah Lone Star College System, sebuah community college terbesar di Amerika Serikat.
Kerja sama tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk meraih dual degree, antara US Associate Degree atau Bachelor Degree dari Amerika Serikat dan S1 dari Sampoerna University. Sehingga mahasiswa bisa lulus dengan gelar nasional dan internasional sekaligus.

“Kita tidak hanya menjanjikan mereka diterima di universitas-universitas tersebut, tapi kita mengencourage untuk mendapatkan nilai-nilai tinggi. Kita ada unit succes stundet sehingga mereka tidak lulus asal-asalan,” tuturnya.


“Sejak awal kita mendeteksi kenapa mahasiswa ini nilainya rendah, orang Indonesia kan dasarnya pintar, tapi bagaimana nge-treat mereka supaya mengoptimalkan kemampuannya. Kita harapkan lulusan dari sini jadi yang terbaik,” pungkasnya. (News.Detik.com)
Menghadapi MEA Melalui Pendidikan Berkualitas
loading...

Artikel Terkait

Menghadapi MEA Melalui Pendidikan Berkualitas
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!