Payung Hukum Perlindungan Guru Dalam PBM

loading...
loading...
Nadi GuruGuru Juga Harus Punya Payung Hukum — Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) memandang bahwa perlunya inisiatif dalam pembuatan regulasi yang mengatur terhadap proses belajar mengajar (PBM) dengan tepat di sekolah.

“Menurut saya, perlu regulasi karena guru juga harus dilindungi,” ujar anggota Komisi X, Yayuk Sri Rahayuningsih kepada redaksi, Rabu (13/7).

Hal tersebut disampaikan oleh Yayuk dalam menanggapi kasus guru yang dilaporkan oleh muridnya kepada polisi hanya karena telah memberi hukuman fisik seperti halnya mencubit. Kasus ini pun mencuat di Sidoarjo, Jawa Timur, hingg berujung ke pengadilan.

“Zaman sudah berubah, kalau dulu murid dimarahi, dihukum guru biasa dan efeknya murid takut, bisa membuat efek jera. Zaman sekarang guru menghukum murid, baru dicubit sudah kena pasal pelanggaran HAM,” sesal dirinya.

Pro dan kontra terhadap kasus itu membuat legislator yang juga membidangi pendidikan itu menegaskan bahwa jika untuk menciptakan PBM yang baik di sekolah tak cukup hanya dengan adanya sebuah surat perjanjian antara pihak sekolah dan juga orang tua murid.

“Sekarang guru sudah tidak bisa lagi menggunakan kekerasan, sudah bukan zamannya. Mereka harus diatur oleh sebuah regulasi. Banyak saat ini guru yang diperkarakan karena menghukum muridnya,” demikian kata Yayuk seperti dilansir Hukum.Rmol.co

Terkait dengan perlindungan hokum bagi guru. Nampaknya ada yang memberi pencerahan. Sebut saja namanya adalah Laurensius Wendie Razif dari IPB yang menyebutkan bahwa perlindungan hukum bagi para guru sudah diatur dalam UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UU Guru dan Dosen) :

#1. Pasal 7 butir (h) : “Pendidik memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan”

#2. Pasal 14 ayat 1 butir (g) : “Pendidik memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam menjalankan tugas”

#3. Pasal 39 ayat 3 : “Perlindungan hukum mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidak adil dari pihak birokrasi”

Namun, melalui legitimasi peraturan yang lebih rendah (Lampiran Permendikbud No. 65 Tahun 2013 Bab VI No. 2 b) semua pasal UU ini menjadi tidak berarti karena kedudukan guru justru dikukuhkan sebagai subordinasi Pengawas (Kemdikbud secara sengaja telah mendefungsionalkan jabatan guru hanya demi penerapan Kurikulum 2013) dengan sanksi pencabutan tunjangan sertifikasi atau mengelirukan data pendidik dalam Dapodik sehingga pendidik sulit mengurus hak-haknya. Pengawas dan Dapodik menjadi “penguasa baru” dalam mengontrol sekolah dan para guru.
Jadi, katanya ancaman bagi guru bukan berasal dari orang tua murid atau juga muridnya, tetapi justru berasal dari jajaran birokrat Kemdikbud sendiri, termasuk para Pengawas : Pengawas Sekolah dan Pengawas Mata Pelajaran)
Siswa ataupun murid adalah subyek didik. Maka siswa berhak mendapatkan suasana pendidikan yang menyenangkan. Hal ini sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Pasal 40 ayat 2 UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) :

“Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis”

Hal ini dijabarkan dalam Permendikbud No.82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Sekolah.
Kalau ada guru yang menciptakan suasana ketakutan dengan kekerasan fisik (mencubit, memukul, perploncoan, dll) atau kekerasan verbal (membentak, memaki, melukai perasaan, dll), maka guru tersebut dengan sengaja telah melanggar UU, hukumannya dipenjara, karena disamping melanggar Pasal 40 ayat 2 UU Sisdiknas dan Permendikbud No.82 Tahun 2015 di atas, guru tersebut juga melanggar prinsip profesionalitas guru (tidak lagi dilindungi oleh Pasal 7 butir (h) UU Guru dan Dosen)

Nah, kira-kira bagaimana tanggapan Bapak dan Ibu sekalian?!
loading...

Artikel Terkait

Payung Hukum Perlindungan Guru Dalam PBM
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!