Perang Dingin 'Antara ‘Guru’ dan ‘Orangtua’ dalam Pendidikan (?)

loading...
loading...
Coba deh perhatikan gambar di bawah ini! Di bawah ini, sebuah spanduk yang berwarna putih tengah dipegang oleh empat orang laki-laki yang tengah memakai seragam PGRI yang tulisannya dengan warna hitam. 
Perang Dingin 'Antara ‘Guru’ dan ‘Orangtua’ dalam Pendidikan (?)

Di mana dalam spanduk itu bertuliskan :

“ORANGTUA YANG ANAKNYA TIDAK MAU DITEGUR GURU DI SEKOLAH, SILAHKAN DIDIK SENDIRI, BIKIN KELAS SENDIRI, BUAT RAPOR DAN IJAZAH SENDIRI”

Nampaknya, spanduk tersebut sebagai suatu balasan atas tidak sedikitnya dari perilaku orangtua yang melaporkan ke polisi karena anak-nya mendapatkan ‘didikan’ dari guru. Akan tetapi, didikan itu dipandang sebagai sebuah ‘kekerasan’(?).

Ya, dengan begitu, kami menyebutnya jika guru dan orangtua siswa sekarang itu sedang perang dingin di dalam pendidikan. Di mana penyerangannya itu dengan menggunakan senjata HAM dan jugan perlindungan Anak.

Memang, pendidikan zaman dahulu tak bisa disamakan dengan pendidikan di zaman sekarang. Kalau pendidikan zaman dulu, mengutamakan akhal dan moral. Sementara dewasa ini mengutamakan nilai sebagai prestasi. Tentu masih ingat, ketika kita masih kecil. Nilai ‘merah’ di rapor itu bukanlah hal yang aneh. Pasalnya, nilai itu memanglah sesuai dengan kemampuan kita sendiri.

Sekarang? Nilai rapor itu sudah diatur dengan KKM. Ya, meskipun nilainya rendah, tetap saja bisa disulap untuk menjadi lebih dari KKM. Jika tidak, sudah pasti kan siswa itu tak bisa naik kelas.

Selain itu, jika dahulu melihat atau mendengar ada seseorang yang tak naik kelas itu adalah hal yang wajar terjadi. Bahkan, ada temen penulis waktu SD itu yang sengaja tidak dinaikkan karena permintaan dari orangtuanya karena umurnya masih dini dan belum matang untuk naik kelas. Ya, padahal kan jika dihitung ke umur, bisa jadi umurnya lebih tuaan dikit dari penulis.

Kalau sekarang gimana? Nampaknya, jika ada siswa yang tak naik kelas itu bisa gehger atau ramai atau jadi buah bibir, dan atau atau yang lainnya. Pasalnya sudah gak zamannya lagi ada siswa yang tak naik kelas. Jika ada? Mungkin dituntut ke polisi lagi kali ya oleh orangtuanya karena hak anak untuk naik kelas. Tapi kalau hak guru untuk mendidik dan juga memberi nilai sesuai kebenarannya ada dimana?


Intinya, perang dingin antara guru dan orangtua dalam proses pendidikan harus dihentikan. Ya, jadilah guru dan orangtua itu menjadi sebuah “keluarga” yang harmonis. Untuk apa? Ya tentunya untuk mengantarkan anak-anak kita menjadi insan yang berakhlak dan juga cerdas. Sehingga, guru dan orangtua menjadi bangga dan berbahagia. (Nadiguru.web.id)
loading...

Artikel Terkait

Perang Dingin 'Antara ‘Guru’ dan ‘Orangtua’ dalam Pendidikan (?)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!