Tragis, Diusir dan Dianiaya Ibu Guru Ini Belum Juga Menemukan Keadilan

Diusir dan Dianiaya, Lima Tahun Ibu Guru Ini Belum Menemukan Keadilan--- Nasib seseorang yang berprofesi sebagai guru masih termarjinalkan di Indonesia. Setidaknya, kenyataan itu tercermin dari kasus yang menimpa ibu guru Nelly Dona Hutabarat. Nelly merupakan salah satu contoh dari guru Indonesia yang jasanya tak dihargai oleh bangsanya sendiri.
Saat ini, Nelly masih mengajar di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Namun, Nelly tidak akan bisa melupakan sebuah kejadian pahit yang telah menimpanya pada 2011 silam. Menggunakan pakaian dinas guru jauh dari Deli Serdang, Nelly menyambangi kantor redaksi Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (12/7).
Nelly bercerita, semua berawalnya dari penonaktifan SDN 106159 Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan, di mana ia mengajar, dan juga pembongkaran paksa atas rumah dinasnya. Hal itu dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Dikpora. Drs Sofian M.Pd, nomor 800/6921/SKR/2010 yang tertanggal 29 Juni 2010.
Atas surat itu, sebanyak 14 guru SDN 106159 kemudian dimutasi ke sekolah lain di kecamatan Percut Sei Tuan. Sedangkan, para murid di-regrouping alias digabung ke tiga SDN lain. Belakangan diketahui jika "penggusuran" guru dan juga murid itu adalah untuk kepentingan pembangunan sekolah SMPN 6 Percut Sei Tuan.
Nelly pun juga mengajukan proses hukum untuk menggugat SK Kepala Dinas Dikpora tersebut. Berdasarkan PP 9/2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan juga Pemberhentian PNS, SK Dikpora tak berwenang untuk "mematikan" aktivitas sebuah sekolah dan membongkar rumah dinas guru.
Namun, pengosongan dan juga pembongkaran rumah dinas tetap saja dilaksanakan pada 24 November 2011. Bahkan, dengan cara sangat yang tak berperikemanusiaan. Dan cara itu  juga turut didalangi Kepala SMPN 6, Elfian Lubis, yang mengeluarkan surat perintah eksekusi pada dua hari sebelumnya.
Padahal, saat pembongkaran paksa berlangsung, proses hukum masih berjalan di Mahkamah Agung. Selain itu, SDN 106159 masih terdaftar di Dapodik Daerah maupun Dapodik Nasional.

“Mereka membongkar memakai jasa orang bayaran. Barang-barang saya dirusak. Saya dianiaya, asbes dijatuhkan menimpa badan saya" ungkap Nelly saat diterima di kantor redaksi, Jakarta, Selasa (12/7).

Kerugian materi akibat pembongkaran itu sekitar Rp 150 juta. Ia pun melaporkan kasus penganiayaan dan pengrusakan itu kepada kepolisian sektor Percut Sei Tuan pada 30 November 2011. Namun sampai saat ini tidak ada tindakan hukum kepada para pelaku yang dilaporkannya.
Sebelumnya Nelly sudah melaporkan perkaranya ke DPRD Provinsi Sumut dan diterima oleh Fraksi PDIP. Sehari sebelum pembongkaran, Fraksi PDIP menyampaikan surat kepada Bupati agar membatalkan surat eksekusi yang dikeluarkan Kepala Sekolah SMPN 6, dan menunda pembongkaran dan pengosongan rumah dinas guru. Tetapi surat itu dianggap angin lalu.
Sesudah kejadian itu, Nelly tidak berhenti menuntut keadilan. Ia membuat surat pengaduan ke Bupati, Mahkamah Agung, Komnas HAM, Kemendikbud, Kementerian Hukum dan HAM, serta Menteri PAN-RB. Tetapi tidak ada kejelasan selain imbauan dan permintaan mediasi.
“Lima tahun ini saya mencari keadilan, berulang kali datang ke Jakarta sampai ke Kantor Presiden yang menolak saya. Sebagai guru saya dipermalukan," ucapnya lirih.

Tujuan Nelly saat ini adalah mendapat klarifikasi terkait kasus pembubaran secara semena-mena atas sekolah di mana ia mengajar. Juga agar orang-orang yang melakukan pengrusakan dan penganiyaan terhadap dirinya mendapat hukuman setimpal.


“Saya cuma mau martabat saya sebagai guru dipulihkan, orang-orang yang merusak barang-barang pribadi dan menganiaya saya dihukum. Itu saja," lanjut Nelly tak kuasa menahan tangis. (Rmol.co)
Tragis, Diusir dan Dianiaya Ibu Guru Ini Belum Juga Menemukan Keadilan

Artikel Terkait

Tragis, Diusir dan Dianiaya Ibu Guru Ini Belum Juga Menemukan Keadilan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...