NADI GURU BLOG

Menangkal Radikalime Melalui Pendidikan Karakter

Posted by Dede Taufik on Thursday, 2 November 2017

Ramai dan gencarnya infiltrasi ideologi radikalisme harus ditangkal dengan melakukan penguatan pendidikan karakter terhadap anak. Khususnya pada beberapa nilai-nilai nasionalis seperti cinta pada Tanah Air, bangga menjadi bangsa Indonesia, menghargai keberagaman, menghormati perbedaan keyakinan, serta berintegritas dan bertanggung jawab.
Menangkal Radikalime Melalui Pendidikan Karakter

Menurut Arie Budhiman selaku Staf ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bidang Pembangunan Karakter bawah radikalisme pada kalangan pelajar harus menjadi perhatian dan juga perlu dicegah penyebarannya. Namun, Arie menegaskan bahwa tak bisa juga jika ada hasil survei dari suatu lembaga yang menggeneralisasi bahwa pelajar-pelajar pada saat ini sudah berpaham radikal.
Menurutnya, ecara teknis survei haruslah dilihat lagi apakah respondennya representatif dan juga hasilnya valid. Dia juga melanjutkan jika di sisi lain survei tersebut memang penting supaya pemerintah dan juga kalangan masyarakat lebih melakukan peningkatan terhadap pertumbuhan penguatan pendidikan karakter (PPK).
Arie mengatakan bahwa PPK ini menjadi program dari pemerintah sebagai upaya untuk menangkal radikalisme, khususnya di kalangan pelajar. Implementasi PPK dilaksanakan secara bertahap.
Pada tahun 2017, Kemendikbud menargetkan 1.626 sekolah sebagai rintisan PPK yang akan memberikan dampak terhadap 9.830 sekolah di sekitarnya. Sementara itu juga melakukan penyematan stigma negatif ke kalangan pelajar dan juga mahasiswa dinilai tidaklah hal yang bijak karena hal itu bisa mengikis optimisme terhadap hal-hal yang positif.
Seperti halnya melakukan penyematan stigma radikalis di kalangan pelajar dan juga mahasiswa yang justru akan berdampak terhadap lingkungan sosial dan hal itu juga bisa mengganggu tumbuh kembang generasi muda yang pada dasarnya sedang dalam tahap pencarian jati diri. Tentunya pencarian jadi diri untuk menjadi manusia yang bisa mandiri.
Demikian juga penilaian dari Doni Koesoema selaku pakar pendidikan yang menanggapi survei ”Potensi Radikalisme di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa” yang dilakukan oleh Alvara Research Center. ”Kenapa penyematan radikalisme itu tidak tepat? Karena itu bisa mengakibatkan efek negatif, bisa disamakan dengan ekstremis dan juga lain-lain yang mengarah pada hal negatif,” dikatakannya jika penyematan radikalis itu parameternya tidak jelas.
Sesungguhnya atas dasar pertanyaan apa yang kemudian hal itu disebut radikal? Belum lagi dari sisi bahasa, dimana seorang yang memliki pemahaman radikal dalam beragama pun juga belum tentu negative. Hal itu karena artinya memahami nilai dan ajaran agama hingga sampai pada akarnya.
Demikian pula pada waktu radikalis itu disandingkan dengan kelompok fundamentalis yang selalu merujuk terhadap ajaran awal pada apa yang diyakininya dalam paham keagamaannya. ”Artinya tidak bisa begitu saja boleh menyematkan cap radikalis kepada mereka hanya dengan mengacu pada pertanyaan setuju atau juga tidak terhadap penerapan perda syariah misalnya, kemudian ketika setuju diasumsikan bahwa kelompok itu juga bagian dari yang setuju dengan paham jihad melalui bom bunuh diri. Itu tidak clear,” katanya.

Menurutnya, tak bisa disimpulkan jika kelompok tertentu sebagai radikalis, termasuk dalam hal ini adalah kalangan pelajar dan juga mahasiswa, dengan cara melaksanakan sebuah riset yang parameternya tak jelas dalam mendefisinikan apa yang disimpulkan tersebut.(Sumber  nasional.sindonews.com)

Previous
« Prev Post

Related Posts

21:44:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!